Sunday, November 4, 2012

Cerita pagi dari sudut Negeri

“Bahagia itu sederhana. Bangun pagi dan segera bersujud serta memuji Sang Pemilik alam juga sebuah kebahagiaan. Sederhana”. Tulis salah seorang sahabat ketika di tanya oleh Facebook “ apa yang anda pikirkan?

Ada lagi harapan yang di tulis oleh sahabat juga di facebooknya, “Pagi ini lebih indah dari sebelumnya indah insya Allah”.

Itulah aksi mereka di pagi ini, hanya dengan mesin kecil yang mempunyai tombol angka-angka dengan sedikit tombol nomor, mereka bisa menebar hikmah dan berbagi mutiara hidup untuk semua.

Pagi memang selalu di tunggu-tungu oleh kebanyakan manusia, apalagi kalau pagi sabtu dan ahad. Dua pagi itu semua bangun lebih awal, bahkan sebelum adzan subuh berkumandang. Senangnya di dalam hati, jalanan ramai dan suara tak-tik-tuk gesekan sepatu dan aspal begemuruh membangunkan mereka yang terlelap dan menyadarkan mereka yang masih terlena dengan indahnya mimpi.

Dan pagi yang paling di takuti adalah pagi senen, apalagi anak-anak yang masih berseragam merah putih, dan putih abu-abu. Terlena dengan indahnya weekend hingga membuat malas untuk bangun subuh di pagi senen. Apalagi di pagi itu di wajibkan upacara sebelum masuk kelas. Terlambat datang bisa hormat bendera di bawah terik matahari. Kenangan terindah yang tak terlupakan.

Bagi mereka para pekerja kantoran, senen adalah hari terpenting dalam karir mereka. Apalagi mereka yang tinggal di kota-kota besar, sebelum subuh harus meninggalkan rumah. Buah hati masih terlelap namun mereka harus berangkat mencari nafkah, ya sebelum ayam berkokok mereka sudah berada di jalan. Begitu kata ustadz wali band. Karena mencari nafkah adalah ibadah untuk mencukupi kebutuhan sang bidadari dan buah hati, karena hidup adalah anugerah maka syukuri apa yang ada, kata D masiv seperti itu.

Apalagi di ibu kota, Jakarta terkenal dengan macetnya, semua orang menggantungkan harapan di kota itu, mulai dari menjadi penyemir sepatu sampai yang ingin jadi artis. Dan lebih banyak lagi mereka yang berangkat ke Jakarta untuk mengejar komitmen. Hingga ibu kota yang terdengar hanya kemewahan nya, dan tidak sedikit mereka yang bertuhankan uang, hingga pekerjaan apa saja akan di lakukan, asal ada uangnya. Maka muncul lah berbagai permasalahan di ibu kota, mulai macet, banjir dan tidakan asusila lainnya. Untuk mengatasi itu semua insya Allah bang Dayat-Didik akan membereskan semuanya. Loh kok Kampanye gini.

Dan bagi penduduk yang tinggal di kampung hijau, asri dan jauh dari hiruk pikuk suara pabrik, suara klakson motor dan mobil yang terjebak macet. Mereka memanfaatkan pagi nya untuk pergi ke sawah atau ladang, mengelola hutan dengan menanam berbagai sayuran, dihembus angin pagi menjelang siang, dibawah teriknya sinar mentari dengan pacul atau parang sebagai karib di hari itu. Menyeberang sungai dengan perahu, suara riakan air sungai ditambah indah nya kicauan burung. Wah indah suasana desaku, membuat rindu akan keindahan pagi di kampung halamanku. Melihat anak-anak pergi sekolah, menikmati sarapan pagi dengan keluarga. Wah begitulah kenangan itu masih tersimpan rapi di memori ini. Maka nya orng tua-tua dulu bilang “ hujan emas dikampung orang, hujan batu di kampung kita. Maka hujan batu itulah yang lebih indah.” Menurut saya sih seperti itu, tapi boleh juga ambil dulu hujan emas di kampung orang, dan tunggu hujan batu reda di kampung kita dan baru bawa emas tadi pulang ke kampung halaman.

Begitu indah suasana pagi, dan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang bangun pagi. Memulai hari dengan namaNya, berharap hari ini penuh berkah dan lebih baik dari hari sebelumnya. Bagi yang sering molor di pagi hari, coba lah untuk menikmati suasana subuh. Insya allah hidup akan di ridhoiNya. Karena pagimu sangat berarti dan dia tidak akan kembali lagi. Dan karena pagi untuk hari besok belum pasti untuk bertemu kembali.

Cerita pagi dari Flat Rindu Kota sembilan Nasr City oleh Muhammad Arzil Yusri

SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: