Thursday, November 8, 2012

Menulis Gratis Tanpa Basis


Saya terus terdiam memandangi not not huruf kybord yang ada di hadapan saya, sambil terus berpikir apalagi ya yang akan saya tulis, semua huruf sudah saya tekan, semua angka bahkan, namun tetap saja sulit untuk meragkai kata, kalo sudah begini saya malah sering teringat liryc lagunya Base Jam yang terkenal di era 90-an “mungkin aku bukanlah pujangga yang pandai merangkai kata” yaa memang saya akui kok, kalau saya bukanlah pujangga yang pandai merangkai kata, itu terbukti ngegombalin wanita saja saya keder, masa siih untuk menulis sebuah cerita pendek saja saya tidak mampu “walaa gustiii, gustii, apa salahku, apa salah ibuku aku tak bisa menulis seperti saat ini,” rintihku dalam lamunan sambil sesekali tersadarkan oleh lagu wali.

sepuluh menit telah berlalu saya tetap saja istiqomah dalam kebodohan ini, terdiam mematung memandang huruf-huruf yang terletak tidak beraturan di kybord komputer di hadapan saya, sambil memutar otak dan berharap ketika putaran terakhir saya tertidur dan mendapat ilham untuk dapat mengarang cerita yang bagus lagi indah, namun ternyata tidak juga kunjung tertidur dan ilham tidak tahu pergi ke mana, dia tadi pergi tanpa pamit ke saya “apa mungkin ilham meninggalkanku seorang diri di ruang perpustakaan KEMASS dengan ribuan buku ini ya,” celotehku mulai nyeleneh.

“huf,  mau sampai kapan saya begini ?,” tanyaku seorang diri.

mulai timbul percakapan antara saya dengan diri saya, mungkin ini akibat terlarut dalam lamunan yang sudah terlanjur sembilan bulan dan melahirkan imajinasi pasangan obrol saya.
“kamu itu Gus, sudah sering ikut pelatihan kepenulisan, masa gini aja nyerah,” ucap diriku meneymangati.

“tapi ini lain masalahnya guys, ini tidak pernah ada dalam pelatihan itu,” cibirku membela diri.

“apa sih bedanya toh intinya sama-sama nulis dan membuahkan tulisan,”

“masalahnya aku tidak juga kunjung mendapatkan ide untuk menulis saat ini.”

“emang si ide kabur kemana sampai kamu tidak menemukannya,” ejek diriku seraya menghardiknya.

“pecahkan saja otakku biar ramai, biar mengadu sampai gaduh. Kalau sampai waktuku  'Ku mau tak seorang kan merayu,  tidak juga kau.  Tak perlu sedu sedan itu  aku ini binatang jalang  dari kumpulannya terbuang , biar peluru menembus kulitku,  Aku tetap meradang menerjang  luka dan bisa kubawa berlari.  Berlari  Hingga hilang pedih peri  dan aku akan lebih tidak perduli . Aku mau hidup seribu tahun lagi,” tanpa ku sadari puisi-puisi yang pernah ku baca keuar begitu saja dari dalam otakku.

“plok, plok, plok” aku mendengar tepukan dari sebrang disusul dengan suara “harus gitu gw bilang waw, terus lari-lari minta tanda tangan ?,” dengan suara yang begitu menyebalkan.

“ayolaah, kamu itu bisa goblok,” sekarang malah motivasinya terlihat lebih kasar dari sebelumnya.

“jangankan buat sebuah cerita pendek, membuat setatus saja aku jarang,” bela ku mempertahankan egoku “kalo gak percaya silahkan aja cek Facebookku Agus El-maiya Century,” tantangku seketika melihat keraguan di jidatnya.

“aaaah payah, benar-benar payah, percuma kamu selam ini ikut pelatihan kepenulisan, hafal diluar kepala teori-teori itu, kalo menulis begini saja kau tak becus,” sergah dia penuh kekesalan.

“ayolah plis guus, kamu pasti bisa, “kamu mampu looh,” itu yang dikatakan buk Sophi Mou ingat itu,” suara itu kembali melembut, seakan ingin mendongkrak kembali semangat yang sudah dihempaskannya tadi.

“menulis itu ibarat belajar berenang, percuma kalau kamu Cuma terus belajar teori di dalam ruangan kelas yang kering, tanpa pernah mencobanya langsung di kolam berenang, kebodohan yang nyata kala seseorang mengatakan ingin jadi penulis yang handal dan mengikuti berbagai pelatihan hingga sertifikat berserakan di mana-mana atas namanya, kalau Cuma menggenggam pulpenpun belum pernah apalagi menuliskan satu kalimat saja,” lanjutnya berorasi dengan suara penuh semangat.

“kunci menjadi penulis yang handal itu Cuma tiga guuus, ingat gak kamu ?,” tanyanya padaku.
“iya, jawabku dengan suara pelan,” pelanku bukan karena keraguan namun mutlak karena malu yang begitu besar.

“coba sebutkan perlahan-lahan dan tanamkan dalam dadamu,” perintahnya kepadaku.
“kunci penulis handal yang pertama menulis, kedua menulis dan yang ketiga menulis,” ucapku tanpa terbat-bata sedikitpun.

Seketika itu saya terperanjat kaget dan sadar akan semua lamunan itu, tidak terasa dihadapanku sudah ada tulisan yang saat ini and abaca kawan. Memang betul ini nyatanya, kita begitu sering memiliki keinginan-keinginan tanpa memiliki usaha, dan saya acungkan jempol kepada orang-orang yang ingin menjadi penulis dan dia terus rajin mengikuti pelatihan kepenulisan namun tidak hanya sampai di situ kawan, ayo mulai saat ini kita angkat pena dan kembalilah menatap kertas dengan penuh senyuman dan mulai saat ini MENULISLAH.



SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: