Saturday, November 3, 2012

We Hala Lwin; Wanita dengan Doa dan Bunga

Dari sebuah kota yang akhirnya menemukan kedamaian, sementara pertikaian masih berlanjut di sekitarnya. Dari seorang anak laki-laki yang tidur begitu lelap dan terbangun untuk menemukan kedamaian yang abadi. Dari wanita yang masih mengenakan gaun hitam yang berjuang dengan bunga dan doa-doa, alih-alih senapan dan api yang menyala-nyala untuk melindungi putra-putri mereka. Takdir kemudian menggiring mereka pada sebuah jalan yang belum pernah mereka lalui..”

Lebanon yang menyuguhkan kisah tentang wanita yang berjuang dengan doa dan bunga. Wanita yang menanggung lara dan kesedihan berkelanjutan di tengah kehidupan sebuah kampung terisolir pun di kelilingi ranjau. Keseharian mereka bukan lagi layaknya kehidupan yang bisa mereka nikmati, selalu ada bayang kematian yang mendekat dan tiba-tiba menyerang di setiap waktunya. Suara senjata api telah menjelma pada gelap malam dan terangnya fajar, mereka hidup ditengah konflik Masjid dan Gereja. 

Kisah ini berawal dari wanita bergaun hitam yang berdoa dan membawa bunga ke pemakaman. Dengan perasaan dan hati yang seolah belum rela akan kepergian suami dan anak tercinta. Pemakaman umat Islam dan Kristen, mereka adalah korban dari kekerasan dan pertikaian agama. Hati mereka selamanya berkabung atas kematian anak dan suami. Meratapi dan menguatkan hati mereka dengan memiliki cita yang sama; mewujudkan perdamaian.

Keseharian kampung dengan dua bangunan yang berdekatan;Masjid dan Gereja, sama seperti halnya kampung-kampung lain. Mereka melaksanakan kewajiban mereka sebagi penganut kepercayaan, juga melaksanakan tugas mereka sebagai komunitas kecil yang saling  membantu. Walau demikian ketegangan antara keduanya tetap ada, selalu siap siaga membela kepercayaan masing-masing. Pertikaian kecil tak ubahnya api yang selalu berkobar dan menjalar sedemikian cepat. Sensitifitas keduanya selalu hadir dalam mencerca dan membela kepercayaan.

Perselisihan silih berganti, hari ini umat Islam menuduh umat Kristen, esok harinya umat Kristen mencerca umat Islam. Terus begitu sampai akhirnya kejadian fatal menimpa salah satu penduduk kampung. Nassim yang biasa pergi ke kota bersama roukoz untuk membeli kebutuhan dan pesanan warga, tertembak saat melewati jalur pertikaian. Sama seperti hari-hari sebelumnya, keduanya pulang subuh hari. Namun kali ini Nassim pulang tanpa nyawa.

Takla ibu dari mereka meminta agar kematian ini tak diketahui oleh siapapun. Mereka menyembunyikan kematian ini demi menyelamatkan kampung. Kematian seorang pemuda Kristen pasti akan menyulutkan peperangan kepada umat Islam. Dan mereka, wanita-wanita itu masihlah bergaun hitam dan menanggung lara kehilangan hari lalu, jika perpecahan terjadi maka lara itu kian tak terobati lagi. Sehingga seorang ibu dengan segala rasa kehilangannya mampu menyembunyikan derita itu demi keselamatan orang banyak.

Namun tak lama kebohongan itu terungkap, warga menangkap kejanggalan pada keluarga tersebut. Mereka saling bertanya tentang pemuda itu, namun Takla hanya menjawabnya dengan air mata. Begitu juga kakak Nassim yang sangat sinis terhadap kaum Islam. Begitu ia mengetahui kabar buruk tentang Nassim emosinya pun tak dapat dihindarkan, segera ia mencari senjata untuk mengoyak kaum Islam. Marah, ia tak menemukan senjata itu. Tiba-tiba ibunya muncul dari pintu dan tangannya telah menodongkan senjata ke arahnya, memintanya untuk tetap diam di rumah. Issam yang tetap bersikeras ingin membalas kematian adiknya berontak, satu tembakan pun meluncur melumpukan kakinya. Dengan air mata Takla berucap "aku tak ingin kehilanganmu nak".

Kejadian ini rupanya menjadi awal dari sebuah pergerakan wanita yang menginginkan perdamaian. Cara-cara sederhana yang merekalakukan demi menghindari pertikaian sudah tak berguna lagi. Kaum lelaki semakin geram dengan apa yang tengah berlangsung, mereka bahkan saling berunding untuk mengeluarkan senjata. Mereka bersiap-siap melakukan penodongan terhadap kaum Gereja, dan sebaliknya kaum Gereja pun demikian. 


Alih-alih dari persiapan kaum lelaki dengan persenjataannya, kaum wanita pun mempunyai strateginya sendiri. Mereka merancang sebuah pesta, pesta itu dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian kaum lelaki sementara sebagian dari kaum wanita mengubur seluruh persenjataan. Semua rencana terlaksana dengan baik dan pesta pun berlangsung semalaman suntuk. Keesokan harinya, udara kampung telah berubah warna. Telah berubah aroma. Kaum wanita serempak telah memakai gaun hitam mereka. Aroma kedamaian muncul, semua warga larut dalam keheningan. Mereka bersama-sama mengantarkan Nassim untuk dikuburkan. Dalam keheningan itu kemudian mereka tersadar, mereka baru saja melewati jalan yang belum mereka kenali sebelumya sekali. We Hala Lwin?? Where Do We Go Now??

Film ini merupakan karya kedua dari Nadine Labaki, sutradara yang sebelumnya sukses dengan karyanya Caramel.Dalam film ini ia mengetengahkan kaum wanita Islam dan Kristen yang hidup dalam suatu kampung yang terpencil. Mereka adalah wanita yang menjunjung tinggi toleransi beragama. Mereka menyatukan cita untuk menghindari segala bentuk kericuhan dan mengambil keputusan yang tepat untuk menghentikan perbuatan saling membunuh diantara kaum lelaki.

Kita bisa melihat bagaimana usaha dan sikap yang dilakukan oleh kaum wanita di sana. Ketika kum lelaki -yang seharusnya menjadi pemimpin bagi keluarga dan umatnya turun ke jalan dan saling bunuh-membunh atas nama kepercayaan yang dianut. Secara kultural wanita hanya akan bersikap diam mengikuti kehendak suami. Namun pada kisah ini kita disadarkan bahwa wanita pun bisa berjuang dengan caranya sendiri, dengan cara yang  lebih halus.

Mereka memulai perjuangan mereka dari hal yang terkecil, semisal membakar surat kabar dengan headline pertikaian umat Muslim dan Kristen. Mematikan radio dan telivisi yang menyiarkan berita serupa. Termasuk menggagalkan rencana besar mereka untuk mengeluarkan senjata. Seolah mereka selalu siap siaga menaburkan penawar dalam racun yang kerap kaum lelaki lakukan.

Wanita adalah makhluk yang selamanya bersikap halus ketika lelaki cenderung mengedepankan emosi. Pertumpahan darah antar keluarga dan masyarakat  merupakan hal yang begitu mengiris hati. Kehilangan suami, anak atau bahkan keduanya menambah ketidaknyamanan hidup mereka setiap saat. Wanita yang terbiasa berteman dengan air mata kini tak lagi memiliki air mata, sehingga tekanan itu muncul dan terus mendorong mereka untuk melakukan pergerakan demi terciptanya sebuah ruang yang menghadirkan sosok suami dan anak hidup bersama-sama dengan bahagia.

Terlebih dari itu, kita bisa berkaca sebagai wanita sejauh manakah usaha kita untuk melindungi anak-anak dan keluarga kita. Perlindungan itu tak selalu berujud pada tembok-tembok besi atau sekedar tameng, tapi perlindungan dari yang paling dasar adalah perlindungan untuk selama-lamanya. Perlindungan yang terealisasi pada bagaimana sebisa  mungkin kita menutup mata dan telinga anak dari segala bentuk kerusuhan, lalu menanamkan dalam-dalam rasa mencintai perdamaian dengan sesama.

Hal lain yang tak kalah menarik, dalam film durasi satu setengah jam ini kita tidak menemukan penyebutan nama tempat sekali pun. Artinya, film ini tengah menghadirkan tema yang sangat universal. Dimana perpecahan dan aksi saling membunuh itu tak lagi terbatas pada tingkat agama. Lebih dari itu, antara lawan dan musuh, antara hitam dan putih, antara dua golongan, antara dua desa bahkan antara dua keluarga. Sebuah karakteristik yang perlu kita cermati. Bahwa aksi saling membunuh sudah bukan lagi hal yang tabu, dimana orang dengan kewaganegaraan yang sama saling membunuh satu sama lain, padahal mereka tetangga,teman dan bahkan saudara.

Kemudian di akhir cerita, ketika apa yang mereka cita-citakan telah terwujud, mereka berjalan bersama dalam keheningan. Berbicara pada hati mereka masing-masing. Bertanya dan mencari jawaban, Where do we go now??

Sebuah karya dengan segudang inspirasi untuk kaum wanita. Mengajarkan suatu sikap  dimana sebaiknya kita berdiri sebagai kaum wanita, sebagai istri, juga sebagai ibu yang  turut bertanggung jawab atas kehidupan dan perdamaian dunia. Mari bangkit, mari berjuang dengan doa dari hati yang terdalam dan dengan bunga yang menebar wangi surga. oleh Unizalhaura"tanpaLilin"

SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: