Sunday, January 20, 2013

Selayang Pandang

Mesir dan Al-Azhar 
Pyramid & Spinx
Sebagai sebuah situs peradaban manusia, Mesir adalah salah satu tonggak peradaban manusia tertua. Saksi-saksi sejarah peradaban manusia di ribuan tahun silam itupun masih tersimpan di negeri ini. Sebuah peninggalan sejarah panjang yang tak lekang oleh waktu. Sejarah yang dapat mengantar manusia untuk lebih mengenal nilai-nilai positif dalam membangun sebuah masyarakat sosial dan peradaban besar serta memahami hakekat kebesaran dan keagungan Tuhan. 

Peradaban Mesir Kuno berawal pada sekitar tahun 3150 SM. Peradaban ini terletak di sebelah utara timur benua Afrika, berada di sepanjang aliran Sungai Nil yang mengalir hingga ke laut Meditterania. Daerah aliran sungai Nil sepanjang 1545 KM, membentang dari wilayah Sudan hingga Mesir. Peradaban lembah sungai Nil di Mesir, Afrika, lahir disebabkan kesuburan tanah disekitar lembah sungai sebagai akibat banjir yang membawa lumpur. Inilah yang menarik perhatian manusia untuk mulai hidup dan membangun peradaban di tempat tersebut. 

Peninggalan dan pencapaian-pencapaian peradaban Mesir Kuno antara lain: konsep geometri dan teknik pembangunan monumen seperti piramida, kuil, dan obelisk, pengetahuan matematika;  berupa prinsip-prinsip yang mendasari teorema Pythagoras, teknik Memperkirakan luas lingkaran dengan mengurangi satu per sembilan diameternya dan memangkatkan hasilnya. teknik pengobatan; dan kimia dari konsep pembuatan mummi (Mummifikasi). sistem irigasi dan agrikultur; yang dikembangkan di sepanjang daerah aliran sungai Nil serta pembuatan waduk untuk mensuplai air. kapal pertama yang pernah diketahui, teknologi tembikar glasir bening dan kaca; seni dan arsitektur yang baru; berupa Piramida-piramida yang luar biasa megah. sastra Mesir Kuno; dan traktat perdamaian pertama yang pernah diketahui. Sastra Mesir Kuno yang ditulis dengan tulisan hieroglif, dipahatkan di daun papyrus. Bangsa Mesir kuno telah tahu mampu merakit papan kayu menjadi lambung kapal sejak tahun 3000 SM, berupa pembuatan kapal sebagai sarana transportasi. Sistem astronomi dan jam matahari. Peradaban Mesir kuno telah meninggalkan banyak peninggalan dan warisan abadi yang memberikan inspirasi bagi penemuan-penemuan berikutnya dalam perjalanan kehidupan manusia selanjutnya.

Situs-situs peradaban kuno tersebut masih dapat kita jumpai di Mesir saat ini. Melangkah di Negara ini, seakan mengisahkan kembali kepada kita beragam peristiwa-peristiwa sejarah itu sendiri. Kota-kota tua yang masih tetap berfungsi tak ubahnya seperti sebuah museum raksasa yang menyimpan ribuan peninggalan sejarah berbagai peradaban. Mulai dari Mesir Kuno (Coptic), Firaun (pharaoh), Yunani (Hellenisme), Romawi, hingga peradaban Islam yang telah mengubah perjalanan sejarah Mesir menjadi sejarah dan peradaban Mesir-Islam ataupun Islam-Mesir.

Dalam perjalanan sejarah agama, Mesir memiliki kedudukan yang sangat penting. Hal ini ditandai dengan salah satu julukannya sebagai negeri para Nabi. Diriwayatkan bahwa Mesir disebutkan sebanyak 698 kali di dalam kitab perjanjian lama dan kitab perjanjian baru. Seorang ulama dan filusuf besar muslim, al-Kindi, mengatakan bahwa di antara tanda kemuliaan Mesir adalah bahwa Allah Swt. menyebutkan Mesir di dalam al-Quran sebanyak 24 kali. Baik disebutkan dengan secara jelas, maupun melalui tanda-tanda dan penafsiran yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah Mesir”.

Di antara para Nabi yang pernah ada di Mesir adalah Nabi Idris As, Nabi Ibrahim As, Nabi Ya’kub As, Nabi Yusuf As, 12 anak keturunan Nabi Ya’kub As, yang dikenal sebagai al-Asbath, Nabi Musa As, Nabi Harun As, Nabi Yusa’ bin Nun As, Nabi Isa bin Maryam As, Nabi Danial As, Nabi Dzulkifli As dan lain-lain.

Mesir juga disebutkan oleh Rasulullah Saw. di dalam hadisnya. Dalam perjalanan Isra Mi’raj, Nabi Muhammad Saw menceritakan bahwa beliau Saw. sholat di bukit Tursina (Mesir). Tempat di mana Allah Swt. berbicara kepada Nabi Musa As. Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Aku diberi seekor hewan tunggangan yang lebih kecil dari baghal... Kemudian Jibril As. berkata lagi; "Turun dan shalatlah!". Lalu akupun shalat. Jibril As. Salam bertanya: “Tahukah kamu dimana kamu shalat?, sesungguhnya kamu shalat di Tursina', yang di situlah Allah berbicara kepada Musa As..”. (hadis an-Nasai 446).

Dalam riwayat lain Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya kamu sekalian (kaum Muslimin) pasti akan dapat menaklukkan negeri Mesir, yaitu suatu wilayah yg terkadang dinamakan Al Qirath. Apabila kalian telah dapat menguasai negeri Mesir, maka berbuat baiklah kepada para penduduknya! Karena, bagaimanapun, mereka memiliki hak untuk dilindungi, sebagaimana kaum kafir dzimmi ataupun karena hubungan tali saudara. (Hadits Muslim 4615).

Imam al-Qurthubi dan Imam an-Nawawi menyatakan hal tersebut merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad Saw. yang mampu menyingkap peristiwa ghaib yang akan terjadi di masa depan, setelah beliau Saw meninggal dunia. Imam an-Nawawi mengatakan: “Pada hadis ini ada mukjizat-mukjizat Rasulullah Saw. yang terlihat. Di antaranya pemberitahuan beliau Saw. bahwa umat ini akan mempunyai kekuatan setelah beliau Saw, di mana mereka mampu menaklukkan orang asing dan para diktator, di antaranya mereka akan menaklukkan Mesir”.

Penaklukan Mesir itupun benar-benar terjadi. Kaum muslimin awalpun banyak yang datang ke Mesir, bahkan tak sedikit yang wafat dan dimakam di Mesir. Di antara para Sahabat Rasulullah Saw. di Mesir adalah:  Zuber bin Awam, Sa’ad bin Abi Waqash, Amru bin Ash, Abdullah bin Amru, Kharijah bin Huzafah al-Adawy, Abdullah bin Umar bin al-Khattab, Qais bin Abi al-Ash as-Sahmiy, al-Miqdad bin al-Aswad, Abdullah bin Abi Sa’ad bin Abi Sar al-‘Amiriy, Muhammad bin Musallamah al-Anshary, Habib bin Ma’qal dan lain-lain.

Jejak-jejak perkembangan Islam dan keilmuan-keilmuan Islam di Mesir kemudian dilanjutkan oleh Para ulama besar Islam yang mendapatkan kondisi dan miliu yang kondusif untuk mengembangkan peran-peran pendidikan, pengajaran dan pencerahan pemikiran. Jumlah para ulama besar yang pernah ada di Mesir sangat banyak. Di antaranya:  Imam Syafi’i, Imam Waqi’, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam As-Suyuthi, Ibnu Khaldun, Imam Abu Hassan as-Syazuli, Imam al-Laits bin Sa’ad, Syeikh Abul Abbas al-Mursyi, Imam asy-Syatibiy, Syeikh at-Tilmasaniy dan lain-lain. 

Menziarahi makam para ulama ini menjadi salah satu program yang dilaksanakan oleh beberapa organisasi mahasiswa yang ada di Mesir. Kegiatan ziarah tidak hanya memiliki pesan sakral dan riligius, namun juga dapat membuka wawasan keilmuan tentang sejarah para ulama dan sejarah perkembangan islam dan ilmu-ilmu Islam.    
Islam telah masuk ke negeri ini sejak abad pertama Hijriah, tepatnya tahun 641 M. Umayyah, Abbasiah, Thouluniah, Akhsyidiah, Fathimiah, Ayyubiah, Mamalik hingga Turki Usmani adalah nama-nama rezim (dinasti) yang pernah berkuasa di Negara yang dikenal dengan Negara Seribu Menara ini. System monarki baru dihapuskan setelah digulingkannya raja Faruk pada tanggal 23 Juli 1952 M.


Masjid Al-Azhar
Salah satu peninggalan zaman keemasan Islam yang tersisa dan paling berpengaruh hingga kini adalah Universitas al-Azhar. Kampus yang didirikan oleh salah satu panglima dinasti Fathimiyyah, Jauhar al-Siqilly pada tanggal 29 Jumadil Ula 359 H (971 M), dan dibuka resmi dengan shalat Jum’at bersama pada tanggal 7 Ramadhan 361 H. Lembaga besar yang semulanya sebuah masjid ini bagai tak pernah lelah membidani kelahiran para ulama dan cendekiawan muslim. “Masjid sekaligus institusi pendidikan tertua”, itulah penghargaan sejarah baginya. Dengan dukungan penuh dari Negara, para ulama dan segenap rakyat, al-Azhar berkembang menjadi pusat studi keislaman dan ilmu-ilmu umum yang ramai dan tak pernah kering dari ide-ide. Apalagi setelah terjadinya modernisasi system pendidikan yang dilakukan oleh Muhammad Abduh pada abad ke-19. Bahkan banyak dari alumni al-Azhar tampil menjadi tokoh garda depan pembaharuan Islam. Muhammad Abduh, Al-Miqrizy, Al-Qardlawy adalah beberapa contoh pembaharu yang juga alumnus Universitas ini. Ia juga sebagai tempat persemaian para guru dakwah dengan kapasitas yang mumpuni dan diakui secara internasional, guna menyebarkan Islam yang ramah dan moderat ke seluruh penjuru dunia, Timur dan Barat.

Sampai saat ini, Mesir masih tetap eksis menyandang predikat sebagai pusat peradaban dan keilmuan Islam. Jika Makkah disebut-sebut sebagai ibukota spiritual umat Islam, maka Kairo adalah ibukota peradaban dan pusat ilmu Islam, karena disinilah pernah berkembang berbagai peradaban dunia yang kemudian mengalami konversi kepada Islam, seperti Persia, Mesir Kuno, turki Ottoman dan Eropa Timur. Perpaduan berbagai budaya dan peradaban dunia tersebut membentuk peradaban Islam khas Mesir yang toleran, akomodatif dan progresif.


SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: