Sunday, March 31, 2013

Inilah Neegeri Itu

Deru detik jam semakin jelas terdengar di kesunyian malam yang berpacu dengan desiran udara malam yang mencekam, keheningan malam itu mengusik ketenanganku, aku mencari apa yang sebanarnya membuat hati semakin bertanya-tanya. Setelah aku mengamati sekeliling kamar ini seakan aku menjadi bahan tertawaan oleh banda-benda di sekelilingku yang bertanya-tanya ada apa denganku. Hembusan angin malam mengisi , apa yang harus aku perbuat, aku terus merenungkannya, berbisik pada nuraniku sendiri,



“Hey! Sejuah mana tindakan yang telah kau perbuat untuk hidupmu dan orang-orang yang menyayangimu agar mereka paham siapa sebenarnya dirimu?” “Aku telah berbuat banyak hal, yang menjadikan aku hingga seperti saat ini”. “Bohong! Sungguh kau telah berdusta pada dirimu sendiri”.
Dingin seakan menusuk tubuh lewat poriku, membuatku terbangun dari lamuananku. Bingung dengan keramaian pikiran ini. Ketika sinar mentari nan indah menerobos ke selah-selah dedaunan yang rindang dan jatuh tepat di atap rumahku, aku bergegas untuk menyapa datangnya pagi indah nan bermakna itu. Mas, Mas! Sepertinya Ibu memanggilku,

“Iya Bu?” “Ayo sarapan, udah ditungguin sama Bapak!” “Ya, sebentar lagi” “Jangan terlalu lama ya 
Mas!” “Woke Buk”

Sampailah aku dipenghujung makanku, dan “Mas! Kamukan udah lulus, terus kamu mau ngelanjutin ke mana?”. “Hehe, belum tahu ni Pak mau lanjut ke mana”. Meskipun sebenarnya aku telah ada rencana mau ke mana, tapi aku masih sangat ragu untuk benar-benar menjadikan itu sebuah pilihan yang akan menentukan masa depanku kelak. Ujarku di dalam hati. “Hhmm yo wes. Tapi ingat Mas kita sebagai makhluk yang hidup di dunia ini mesti mempunyai tujuan akan keberlangsungan hidup. Tuhan telah mengisyaratkan demikian, setelah Tuhan menciptakan hambaNya, Dia tidak lekas begitu saja membiarkan apa yang telah diciptakan, tapi Tuhan memberikan pengetahuan, aturan dan pelajaran pada hambaNya, bahwasannya Tuhan mempunyai tujuan mengapa Dia menciptakan kita. Ayo lakes dipikirkan!”.

“Kalau Ibu sih inginnya kamu di dekat ibu saja Mas” Celetuk Ibu. “Hhmm, Ibu ki opo to. Ingat kata as-Syafii "Jika kita memang sayang kepada buah hati kita maka lepaskanlah ia untuk menuntut ilmu". “Iya, tapi dia masih terlalu dini untuk jauh dari kedua orang tuanya”. “Lalu kapan lagi kita akan melatih kemandirian putra kita ini, sayang boleh Bu, tapi jangan sampai sayang itu akan menelantarkannya kelak kala ia telah beranjak dewasa dan tua di mana dia telah mempunyai kehidupan dan jalan sendiri”. “Iya, aku ngerti Pak Buk, tapi untuk sekarang ini aku belum mampu untuk memutuskan tentang itu”. Sahutku.
“Kemampuan itu akan terlihat jika kita telah menapaki apa yang telah menjadi tekat kita Mas, jika kita belum mempunyai tekat lalu kapan lagi kemampuan akan muncul dari diri kita sendiri karena belum mencoba”. “Iya, aku akan berusaha mencari dan memilih mana yang terbaik untukku dan semuanya Pak”. “Syukurlah kalau gitu. Tapi ingat Mas, istiqamah itu bukan menetap pada satu tempat saja. Istiqamah itu menapaki dan menjalani secara kontinyu apa yang telah menjadi tekat. Jika kita ingin pergi ke pasar dan keinginan itu sudah bulat, kendaraan serta jalan yang bisa dugunakan untuk ke sana bermacam-macam, seperti mobil pribadi, bus, taxi dan lain-lain, dan sebelum sampai jangan berhenti di tengah jalan untuk sesuatu hal di luar tujuan awal, terserah mau lewat jalan mana, asalkan itu mengantarkan ke tujuan awal. Itu istiqamah”. “Iya Pak”. Aku tahu Bapak berkata demikian karena ia menaruhkan kasih sayang, harapan dan tanggung jawab di pundakku.

Sepertinya matahari tak begitu bersahabat, matahari menjadi sangar untuk dilihat, menjadi seram untuk dilirik, menjadi misterius untuk dijadikan objek penglihatan, tapi sungguh matahari menjadi sangat indah, manawan dan mempesona jika direnungkan akan semua pengorbanannya untuk kehidupan ini.
Seperti biasa, kami selalu bercanda-tawa kala malam tiba. “Sudah seminggu lebih kita menunggu jawaban dari seseorang. Tapi sepertinya belum ada tanda-tanda nih. Pye Mas?” Seru Bapak sambil menyunggingkan senyumnya. “Ya Pak, tapi apa Bapak merestui?” “Bapak selalu ada di belakangmu untuk mendukungmu jika memang itu pilihanmu dan merupakan hal yang terbaik bagimu”. “Aku ingin berangkat ke Negeri para Nabi Pak, aku siap menjalani semua konsekuensi yang ada dan ini telah ku pikirkan dengan sungguh-sungguh”. “ Baiklah. Berjuanglah Nak”.
Mentari mulai memunculkan wajahnya yang membuatku berdiri dari pembaringan untuk menyambut kedatangannya, bersama dengan itu kicauan beburungan yang bebas bersahutan dan beterbangan di rimbaraya, menawan setiap insan yang mendengarnya.

“Mas, perlu kamu ketahui, Ibu bangga padamu yang mempunyai tekat kuat, meskipun juga Ibu tak rela untuk melepasmu. Ibu teringat sewaktu kamu masih kecil, kamu sangat mungil, lucu, tapi sekarang kamu telah beranjak dewasa dan memikirkan untuk bagaimana menyusun hidupmu di kemudian hari”. “Ibu, aku pergi untuk kembali Bu”. Dengan sedikit senyuman aku sambut ungkapan Ibu. Sepertinya malaikat iri padaku, bidadar iri padaku, dan semua makhluk iri padaku, karena aku sadang sangat diperhatikan oleh kedua orang tuaku saat itu.

Kala sesampainya di bandara, kami menunggu beberapa saat keberangkatan pesawat yang akan ku tumpangi, di saat itu pulalah aku memuaskan diri untuk bercengkrama dengan keluargaku, bermain-main riang bersama adik-adikku. Kala panggilan akan keberangkatanku terdengar, suasana berubah seakan menjadi hening senyap tanpa suara, waktu dan materi, aku menghampiri Ibu yang pada saat itu telah bercucuran air mata,

“Bu, aku anakmu, aku akan pergi dengan harapan agar aku kelak mampu menjadi kebanggaan Ibu. Aku meminta restu serta maaf Ibu, tanpa restumu aku tidak akan memperoleh sesuatu apa pun di sana”. Ujarku dengan mengusap air mata di pipinya.

Lalu Ibuku menarik tanganku dari pipinya, seraya berkata dengan bergetar bibirnya, “Anakku, aku Ibumu, telah merestuimu sebagaimana besar tekatmu, jangan lupakan Ibumu Nak, seandainya Ibu mampu untuk menemanimu setiap saat, pasti Ibu akan melakukan itu, tapi inilah kenyataannya anakku. jangan lupakan keluargamu, janganlah kamu menjadi anak yang telah mempunyai ilmu kemudian engkau lupa pada Ibu, pada keluargamu”. “Ibu, sungguh telah lebih dari cukup apa yang telah engkau berikan padaku, akulah yang semestinya berkata demikian, apa yang telah aku berikan padamu, sungguh tidak ada yang berarti Bu. Pasti ibu, aku akan selalu ada untuk selalu mendoakanmu serta keluarga”. Kucium tangan ibu seraya berkata, “Ibu aku mohon, maafkan semua dosa-dosa yang telah aku perbuat terhadapmu”. Semuanya terasa sangat hening, betapa sangat berharganya Ibu di mataku. “Anakku, Ibu telah memaafkanmu meskipun tidak kamu minta, doa Ibu selalu ada untukmu”. Dengan bercucuran air mata Ibu mengelus kepalaku dan kemudian menciumnya dengan penuh kelembutan. Dan ada satu hal yang membuatku sangat tidak mampu untuk menahan air mata, pada saat ini Bapak yang selalu memberiku semangat tidak bisa mendampingiku, karena Bapak sedang ada di makkah mukarramah ketika itu.

Setelah beberapa hari berada di ibu kota, aku masih sering memikirkan keluarga, tapi bagaimana, memang inilah konsekuensi yang mesti dijalani. Hari keberangkatan ku tiba, dengan hati bercampur antara antara suka dan cita. Tidak lama dari itu aku telah berada di dalam pesawat yang menuju ke kota yang telah ku nantikan.

Matahari terlihat begitu gagah dengan teriknya yang begitu mempesona, awan-awan seakan tekut kepadanya dan menjauh darinya yang menjadikan sinarnya menjadi sangat bermakna dan bersahaja, lalu aku melirik dari celah-celah jendela, begitu banyak menara yang menjulang tinggi di sini, apa ini negeri itu? Apa ini tujuanku? Apa ini tempat pertarunganku? Melayang-layang di atas udara dengan pemandangan yang menabjukkan, tumbuhan dan dedaunan seakan menyambutku. Hanya dengan hitungan menit, aku sampai di negeri itu, seraya aku berteriak dengan penuh cita di sanubariku "inilah Negeri itu, inilah Negeri itu, inilah Negeri itu, inilah Negeri seribu menara itu" oleh: Ibnu al-Fath



SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: