Monday, April 1, 2013

BIARKAN AKU GILA


“Perubahanmu sudah tidak wajar lagi sahabat, kebiasaanmu akhir-akhir ini begitu aneh”. Ku tepuk bahunya yang lunglai penuh pasrah, Ia hanya tersenyum polos, senyum yang dingin dan tak seorangpun bisa memaknainya dengan benar.
“Aku tau sebenarnya kau hanya ingin bersandiwara dengan kebahagianmu saat ini, tapi ini bukan saat yang tepat untuk melakukan semua itu, kamu harus kembali seperti dulu, menjalani rutinitasmu seperti biasa, kuliah, talaqi dan sesekali main kerumah teman-teman”, aku menghela nafas dalam.
“apalagi kuliahmu sudah ditingkat akhir, tidak seharusnya itu ditunda, bukannya orang-orang dikampungmu sudah begitu merindukan kehadiranmu…” tanyaku menggugah realitanya dan mencoba membangunkannya dari mimpi yang jauh dari keheningan itu.
Lagi-lagi ia hanya tersenyum simpul, sambil membenarkan letak kacamatanya yang membingkai kedua matanya yang cekung sambil merubah posisi duduknya, bersedengkuh melipat kedua kakinya sambil meletakkan dagunya diatas lutut.
Lama kami terdiam membisu, saling mengalihkan pandangan masing-masing mencari objek untuk membenarkan kebisuan sore ini, disela-sela jendela berdebu dilantai empat dalam asrama yang entah berapa ribu kali berganti penghuni, semilir angin senja sesekali membelai daun jendela yang kusam, senja semakin menyingsing.
“Memang tidak sebaiknya kita menyalahkan takdir, tapi tidak selayaknya pula tenggelam dalam pesakitan tanpa usaha untuk bangkit, sakitmu sekarang sungguh aneh”. Sambungku kesekian kali.
“Lihatlah teman-teman kita diluar sana, mereka begitu khwatir dengan keadaanmu sekarang, dirimu sudah bukan wafa yang dulu lagi, perubahanmu begitu dramatis kawan. Aku berusaha meyakinkan tentang pribadinya.  
Hening kembali menyelimuti kamar yang sempit ini, tidak mudah memang, tanpa ada usaha untuk menyelami dan melihat dasar lautan hening yang dalam itu. Ini sudah terjadi lebih dari dua minggu yang lalu, ketika disuatu hari kulihat temanku ini tiba-tiba menyebut nama yang tidak pernah kita obrolkan sepulang kuliah dan disaat santai dikamar melepas lelah seperti biasanya, ia begitu dingin, menyendiri, pendiam, mungkin sebagian temanku mengatakan dia tidak peka dengan lingkungan, tapi aku tidak sepakat dengan pendapat mereka, karna lebih dari tiga tahun ini kami hidup sekamar dan menghiasi cita-cita kami bersama. Ia begitu perasa, dan perasaanya begitu cepat tersentuh oleh keadaan yang membuat hatinya tiba-tiba meneteskan air mata. Tapi saat ini perasaan itu sepertinya berubah dari biasanya.
“Apakah kau begitu mencintainya…..??? kenapa kamu tidak perusaha untuk berterusterang kepadanya, apakah kamu akan seperti ini selamanya mencintai sebuah nama, tanpa ada ujung pangkalnya….?
"Bukannya kamu telah mendengar  juga tempo hari apa yang dikatakan yudhi, bahwa orang tua nayla tidak menyetujui hubungannya dengan ridwan karna orang tua nayla mengingikan seorang menantu yang hafid qur'an untuk meneruskan pesantrennya nanti.
"Ini kesempatanmu kawan, semua tahu bahwa kamulah yang paling tepat mendapatkannya, seorang hafid hampir selesai kuliah di al-azhar lagi, lc-mu sudah cukup itu". Rayuku dalam keputusasaan.  
Lagi-lagi semuanya diakhiri dengan kebisuan dan tarikan nafas-nafas berat dalam udara yang pengap. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, seperti hari-hari biasanya ketika aku menemaninya.
Ia hanya diam membisu. Akupun tak yakin sepenuhnya bahwa ia mendengarkan pembicaraanku dari tadi.
Azan magribpun terdengar dari ujung menara masjid didalam kompleks asrama ini, memisahkan kebisuan berhari-hari yang kami jalani. Aku pandangi lama sekali tubuhnya yang mulai kurus, hari ini mungkin menjadi hari terakhir obrolanku dengan kebisuan karna besok pagi dia akan terbang ke Indonesia untuk penyembuhan yang entah apa penyakit dan penyebabnya.
"Biarkan aku gila"…. Itulah satu-satunya kata yang ku dengar hari ini.
(18 ramadhan 2012, refleksi kenangan) Isnan Syah


SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: