Saturday, February 7, 2015

Sarjana Penuh Rahasia


 Selalu saja hingga pukul satu dini hari saya masih tetap terjaga, tugas yang memaksa mata lelah ini untuk tetap berkerja keras merekam tulisan-tulisan Arab gundul seperti yang dulu saya diskripsikan untuk tulisan Arab tanpa harakat ini kala masih duduk di bangku tsanawiyah dulu. Tidak terasa hari begitu cepat berganti, yang dulunya saya benar-benar bisa menikmati detik-demi detik dalam pergantiannya, namun hari ini, seminggupun saya tidak merasakan sesuatu yang berarti, semuanya monoton begitu saja, hanya ini, ini dan ini yang saya lakukan.

Saat ini saya tengah menyelesaikan disertasi saya mengenai "Polemik Bahasa Arab Bagi Non Arab" terdengar sangat sederhana bukan ???, yaa sayapun dulu menganggapnya sederhana dan itu sebabnya pula saya memilih judul disertasi ini menimbang padatnya jam saya sebagai wartawan di salahsatu media di kota pempek ini. ternyata hasilnya jauh dari yang dibayangkan hingga menyeret saya ke dalam sebuah pusaran asing yang tidak pernah saya temukan sebelumnya hingga terdampar di kota seribu menara ini Mesir.

Semua berjalan seperti yang direncanakan bahkan terasa sangat mudah. saya mengajukan proposal disertasi kepada dosen pembimbing saya di pascasarjana. Tidak lebih dari empat menit dosen pembimbing dengan serta merta menerima judul yang saya ajukan dengan sebuah senyum misterius yang akhir-akhir ini baru dapat saya pahami. Keluar dari ruang dosen pembimbing dengan judul diterima secara mutlak, bukannya saya merasa bahagia malah kejanggalan yang saya rasa. Beberapa teman seangkatan bertanya kepada saya dan itu semua saya jawab dengan singkat dan sederhana.
Menurut prosedural, setelah judul diajakuan dan diterima, maka saya akan bergegas ke perpustakaan serta toko buku untuk berburu buku-buku referensi. Meski di Indonesia ada juga yang malah datang kepada jasa pembuatan disertasi yang saat ini ramai di kota-kota yang tergolong kota mahasiswa, ini bukan rahasia lagi, gelar di Indonesia sudah semakin murah dan dapat ditemukan bahkan di pelataran toko-toko berukuran kurang dari 4x4 meter persegi sungguh miris.

Perpustakaan kampus tujuan pertama saya setelah lama berleha-leha di kantin dekat gedung retorat yang terkenal menyediakan makanan-makanan lezat ala dosen-dosen Raden Fatah. Saya yakin betul bahwasanya saya akan sangat mudah mendapatkan buku-buku referensi yang saya butuhkan untuk proyek disertasi ini, apalagi menyangkut bahasa Arab yang selama ini saya temukan di pondok pesantren setamatnya saya dari tsanawiyah dulu.

Satu jam sudah saya berkutat di ruangan besar ini tempat menyimpan jutaan buku dengan kategori yang beragam, dengan terbitan terdahulu hingga yang baru saja beredar di pasaran. perpustakaan ini termasuk yang tercanggih di kota Palembang, sudah mengenal sistem komputerisasi jauh sebelum perpustakaan lainnya di kota ini memakainya. Ruang baca yang begitu nyaman suasana yang begitu tenang, tidak heran jikalau banyak mahasiswa-mahasiswi yang menghabiskan waktu kosongnya disela-sela jam kuliahnya di sini, ada yang membaca buku dan sebagian ada yang hanya beristirahat bersama laptop dan gadget kesanyangan mereka, karena di perpustakaan ini juga di lengkapi Wi-Fi dengan koneksi yang cukup dibilang lancar. Baru ada satu buku ditangan saya setelah berkeliling di lorong Sastra Arab


SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: