Friday, October 13, 2017

(Pertemuan Kedelapan) Kajian Reguler Tafsir

DP KEILMUAN KEMASS
LAPORAN HASIL KAJIAN REGULER TAFSIR
Tafsir Al-Qur'an Pada Fase Awal (Nabi SAW dan Para Sahabat)
Pertemuan Kedelapan
Selasa, 10 Oktober 2017
.
Alhamdulillah, pertemuan kedelapan kajian reguler tafsir kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun telah terlaksana dengan lancar.
Seperti biasanya, terdapat tiga pembahasan kajian yang diambil dari kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun, Al-Itqân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân dan kitab-kitab tafsir bil ma’tsûr, bi ar-ra’yi dan lainnya.
Melanjutkan pembahasan yang sebelumnya—yaitu sumber-sumber tafsir pada masa sahabat—adapun kali ini diawali dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan pada pembahasan pertama (kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun hlm.56-90) antara lain,
• Apa saja sumber-sumber penafsiran pada fase awal penafsiran di kalangan para sahabat? Lalu,
• Sejauh mana peran berita dari ahlul kitab dari Yahudi dan Nasrani dalam menafsirkan Alquran di kalangan para sahabat?
• Apakah Israiliyat diterima dalam menafsirkan Alquran? Apakah ditolak secara mutlak atau diterima secara mutlak?
• Apa yang mendorong para sahabat dan para penerusnya menggunakan Israiliyat untuk menafsirkan Alquran? Adakah tuntunan dari Nabi Saw. Dalam menggunakan Israiliyat dalam tafsir Alquran?
• Kapan para sahabat menggunakan Israiliyat dalam menafsirkan/memahami ayat Alquran?
• Apa keistimewaan tafsir pada fase ini (Nabi Saw. dan para sahabat)?
• Apa kedudukan tafsir shâhabiy? Apakah semua tafsir sahabat memiliki status Hadis musnad? Bagaimana pendapat para ulama Hadis tentang hal itu?
Pertanyaan pada pembahasan kedua (kitab Al-Itqân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân hlm. 246-250) yaitu,
• Apakah maksud dari istilah sab’ati al-ahruf di dalam Alquran?
• Adakah perbedaan pendapat dari ulama dalam memaknai maksud dari istilah tersebut? Jika ada, ada berapa dan apa saja perbedaannya?
Sedangkan pada pembahasan ketiga, pertanyaan yang diawali meliputi,
• Apakah manusia memiliki kebebasan memilih berman atau kafir?
• Apakah pilihannya itu berakibat pada orang lain? Ataukah hanya pada dirinya sendiri? Jika kebebasan memilih itu tersedia, adakah konsekuensi (akibat) dari pilihan tersebut?
Pada pembahasan pertama, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Sebelumnya kita telah membahas tentang sumber-sumber penafsiran pada fase awal penafsiran di kalangan sahabat, yaitu dengan merujuk kepada Kitabullah, lalu Nabi Saw., ijtihad dan kekuatan penyimpulan dan yang keempat—pembahasan kali ini—yaitu merujuk kepada ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani. Peran mereka dalam menafsirkan Alquran bisa dianggap penting. Hal itu dikarenakan bahwa Alquran selaras dengan Taurat pada sebagian problematika, terkhusus pada kisah-kisah Nabi-nabi dan yang berkaitan dengan umat-umat terdahulu. Begitupula Alquran mencangkup atas tempat-tempat yang terdapat dalam Injil seperti cerita lahirnya Isa bin Maryam dan mukjizatnya. Namun, hal ini pastinya bagi ayat yang tidak terdapat penjelasan apapun dari Rasulullah Saw. sebelumnya.
2. Urgensitas Sumber ini Dibandingkan dengan Sumber-Sumber Sebelumnya. Perujukan sebagian sahabat kepada ahli kitab tidak sepenting ketiga sumber sebelumnya, karena sumber ini sempit dan terbatas. Hal tersebut dikarenakan terdapat banyak penyelewengan dan perubahan di dalam Taurat dan Injil. Dalam hal ini, mereka tidak mengambilnya secara mutlak dan tidak menolaknya secar mutlak pula. Mereka hanya mengambil—sesuatu dari ahli kitab—hal yang selaras dengan akidah mereka dan tidak bertentangan dengan Alquran serta menolak yang bertentangan dengannya. Di samping kedua hal ini—penerimaan dan penolakan—ada hal yang didiamkan oleh mereka—dalam artian mereka tidak mengambil sikap apapun terkait hal tersebut. Yaitu ketika mereka mendengarnya dari ahli kitab, maka mereka diam dan tidak menghukuminya dengan suatu kebenaran atau suatu kedustaan. Hal ini dikarenakan mereka menaati sabda Nabi Saw., “Janganlah kamu membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakannya, dan katakanlah kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami”. Selain itu, para sahabat menggunakan israiliyat hanya ketika tidak ada penjelasan yang terperinci di dalam Kitabullah mengenai suatu kejadian dan mereka tidak mendapati penjelasannya dari Rasulullah Saw.
3. Para Sahabat yang Terkenal sebagai Ahli Tafsir
• ‘Abdullah bin ‘Abbas
• ‘Abdullah bin Mas’ud
• ‘Ali bin Abi Thalib
• Ubay bin Ka’ab
4. Nilai dan Kedudukan Tafsir yang Dinukil dari Sahabat. Imam al-Hakim menyebutkan dalam Al-Mustadraknya bahwa tafsir sahabat yang menyaksikan wahyu memiliki hukum marfû’ (sampai kepada Nabi Saw.) dan ia juga menyandarkan pendapat ini kapada syaikaini ketika ia berkata di dalam kitab al-Mustadrak nya, “Hendaknya seorang ahli hadis mengetahui, bahwa tafsir sohabiy yang menyaksikan wahyu dan turunnya, merupakan Hadis musnad. Namun, Ibnu Shalah, an-Nawawi dan selainya mengikat pendapat ini bahwa tafsir sahabat memiliki hukum marfû’ merupakan tafsir yang merujuk kepada asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) dan setiap hal yang tidak terdapat ruang untuk akal di dalamnya. Adapun tafsir sahabat lain yang tidak disandarkan kepada Nabi Saw. maka dianggap riwayat yang mauquf (berasal dari sahabat).
5. Setelah semua hal ini, dapat ditarik kesimpulan,
• Tafsir sahabat memiliki hukum marfu’ (disandarkan kepada Nabi Saw.), jika tafsir itu termasuk ke dalam ranah asbabun nuzul dan setiap hal yang tidak ada ruang bagi akal di dalamnya. Jika termasuk yang terdapat ruang bagi akal di dalamnya, maka berstatus mauquf (bersumber dari sahabat) selama tidak disandarkan kepada Rasulullah Saw.
• Tafsir yang berstatus marfû’ (berasal dari Nabi Saw.) disepakati tidak boleh ditolak, akan tetapi seorang mufasir harus mengambilnya dan tidak boleh berpaling darinya dalam keadaan apapun.
• Apa yang dihukumi dengan mauqûf, terdapat perbedaan pendapat para ulama di dalamnya: kelompok pertama berpendapat bahwa tafsir yang mauqûf tidak wajib diambil, karena ketika ia tidak marfû’kan—kepada Nabi Saw.—maka diketahui bahwa ia berijtihad di dalamnya. Sedangkan kelompok yang kedua berpendapat bahwa harus mengambilnya dan merujuk kepadanya. Salah satu alasannya karena mereka termasuk manusia yang paling tahu tentang kitabullah. Adapun pendapat yang diambil oleh Imam adz-Dzahabiy adalah pendapat kedua.
6. Keistimewaan Tafsir pada Fase Ini (masa sahabat).
• Alquran tidak ditafsirkan seluruhnya, akan tetapi ditafsirkan sebagiannya saja. Yaitu menafsirkan ayat yang pemahaman mengenainya kurang jelas.
• Sedikitnya perbedaan di antara mereka dalam memahami Alquran.
• Kebanyakan dari mereka cukup hanya mengetahui makna secara umum dan tidak mengharuskan untuk memahami makna secara terperinci.
• Terbatas pada menjelaskan makna lughawi yang dapat mereka pahami dengan lafaz yang paling pendek.
• Jarangnya penyimpulan ilmiah terhadap hukum-hukum fikih dari ayat-ayat Alquran dan tidak adanya pembelaan terhadap mazhab-mazhab agama dengan apa yang terdapat di kitabullah: mengingat persatuan mereka dalam berakidah dan juga dikarenakan perbedaan mazhab terjadi setelah fase sahabat.
• Tidak ada kodifikasi dari kitab tafsir pada zaman ini, karena pengkodifikasian mulai ada pada abad kedua.
• Tafsir pada zaman ini mengambil bentuk Hadis, yaitu bentuk bagian darinya dan cabangnya dan tidak mengambil bentuk secara sistematis.
Pada pembahasan kedua, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Ibnu Hajar berkata, “Imam al-Qurtubiy menyebutkan dari Ibnu Hibban bahwasanya perbedaan pendapat pada sab’ati al-ahruf mencapai 35 pendapat.” Imam as-Suyuti berkata, “Ibnu an-Naqib berkata kepadanya dalam mukadimah tafsirnya melalui perantara al-Mursiy, lalu ia berkata, ‘Ibnu Hibban berkata, ‘pakar ilmu berbeda pendapat dalam memaknai al-ahruf as-sab’ah atas 35 pendapat, di antaranya:
• Yaitu perintah, larangan, kabar gembira, ancaman, pemberitahuan dan permisalan.
• Yang ditafsirkan, umum, yang berkaitan dengan hukum, sunah, yang ditekankan dan perumpamaan.
• Tujuh sisi perkataan yang tidak terlepas darinya yaitu, lafaz khusus yang diinginkan kekhususan padanya, lafaz umum yang diinginkan keumuman padanya, lafaz umum yang diinginkan kekhususan padanya, lafaz khusus yang diinginkan keumuman padanya, lafaz yang tidak membutuhkan penakwilan pada penurunannya, lafaz yang tidak diketahui pemahamannya kecuali para ulama dan lafaz yang tidak diketahui maknanya kecuali yang mendalami ilmunya.
• Tujuh bahasa, lima dari Hawazin dan dua dari seluruh arab.
• Bahasa dua Ka’ab, Ka’ab bin ‘Amru dan Ka’ab bin Lu’ay, dan keduanya memiliki tujuh bahasa.
• Yaitu iman kepada Allah Swt., menentang syirik, melaksanakan perintah, menjauhi yang dilarang, teguh dalam beriman, mengharamkan apa yang diharamkan Allah Swt dan taat kepada RasulNya.
2. Imam al-Mursiy berkata bahwa perspektif-perspektif ini kebanyakan saling bercampur dan tidak diketahui sandarannya serta dari mana ia dinukil, dan ia juga berkata bahwa kebanyakan orang awam menduga bahwa yang dimaksud dengan sab’ati al-ahruf yaitu al-qirâât as-sab’ah, pendapat ini adalah pendapat yang buruk.
Pada pembahasan ketiga, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
Tafsir dari surah al-Isrâ’ ayat 15.
1. Dalam tafsir ath-Thabariy, maksud dari ayat ini bahwa keteguhan iman kepada Allah dan RasulNya hanya memberikan manfaat kepada dirinya sendiri, begitupun jika ia sesat, maka hanya membahayakan dirinya sendiri, tidak kepada orang lain. Adapun maksud dari kata al-wizru dalam ayat ini adalah dosa, bentuk pluralnya yaitu al-awzâr. Selanjutnya menjelaskan bahwa Allah tidak akan menghancurkan suatu kaum kecuali setelah Dia Swt. memberikan alasan berupa diutusnya Rasul kepada mereka untuk mendirikan hujah atas mereka, agar dapat menghancurkan alasan mereka untuk berdalih.
2. Dalam tafsir Al-Baghâwiy, maksud dari ayat ini bahwa bagi yang mendapat petunjuk akan mendapat pahalanya dan bagi yang sesat akan mendapat akibatnya di akhirat kelak. Selain itu, seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain dan juga pengutusan Rasul ialah sebagai penegakan hujah dan penghancur bagi alasan mereka, di dalamya terdapat dalil bahwa yang diwajibkan—berupa perintah dan larangan dari Allah—diwajibkan dengan wahyu, bukan dengan akal.




















SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: