Sunday, October 29, 2017

(Pertemuan Kesembilan) Kajian Reguler Tafsir

DP KEILMUAN KEMASS
LAPORAN HASIL KAJIAN REGULER TAFSIR
# Pertemuan Kesembilan
# Selasa, 17 Oktober 2017

 .
Alhamdulillah, pertemuan kesembilan kajian reguler tafsir kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun telah terlaksana dengan lancar.
Seperti biasanya, terdapat tiga pembahasan kajian yang diambil dari kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun, Al-Itqân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân dan kitab-kitab tafsir bil ma’tsûr, bi ar-ra’yi dan lainnya.
Pembahasan kali ini dimulai dengan bab kedua tentang periode kedua tafsir pada masa tabi’in, adapun pembahasan ini dimulai dengan beberapa pertanyaan (kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun hlm.91-120) antara lain,
• Kapan periode kedua tafsir dimulai?
• Apa saja sumber-sumber tafsir pada periode kedua?
• Siapa tokoh-tokoh tafsir pada periode kedua?
• Dimana saja aliran-aliran tafsir yan berkembang pada periode kedua?
• Bagaimanakah kedudukan tafsir yang ditemukan para tabi’in?
• Apa saja keistimewaan tafsir pada periode kedua?
Lalu pada pembahasan kedua kitab Al-Itqân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân, terdapat sebuah pertanyaan pula, yaitu; Apakah rosm mushaf ustmani yang kita baca saat ini mengandung seluruh tujuh huruf yang disebut dalam hadits Rasulullah?
Pada pembahasan terakhir, yaitu tentang tafsir surah An-Nahl ayat 92, terdapat pula beberapa pertanyaan, diantaranya;
• Apa maksud mengikuti Rasulullah berarti kebikan untuk dirinya sendiri, bukan untuk Allah, Rasulullah dan oranglain?
• Apa yang dimaksud dengan orang yang sesat?
• Apa tugas Rasulullah dalam ayat ini?
Pada pembahasan pertama terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Permulaan tafsir pada periode tabi’in dimulai dengan berakhirnya tafsir periode sahabat. Dan fase kedua tafsir dimulai dari masa tabi’in yang berguru kepada, lalu mereka menerima sebagian besar ilmu mereka dari para sahabat. Sebagaimana terdapat sebagian tokoh sahabat yang terkenal dengan tafsir dan menjadi rujukan dalam mencari kejelasan sebagian makna yang samar dari kitabullah, terdapat pula tokoh-tokoh tabi’in yang terkenal dalam tafsir, mereka berbicara tentang tafsir dan menjelaskan makna-makna tersembunyi ayat Alquran kepada orang-orang yang sezaman dengan mereka.
2. Sumber-sumber tafsir pada periode tabi’in, yaitu
• Alquran.
• Sunah Rasulullah ( apa yang diriwayatkan para sahabat dari Rasulullah).
• Tafsir sahabat (apa yang diriwayatkan para sahabat dari tafsir mereka).
• Isro’iliyyat (para ahli kitab dari golongan Yahudi dan Nashrani).
• Metode ijtihad tabi’in (tidak dari penjelasan sunah Rasulullah dan para sahabat).
3. Aliran-aliran tafsir periode tabi’in. Allah memberikan banyak penaklukan negeri kepada kaum muslimin pada masa Rasulullah dan khulafaurrosyidin, dan mereka tidak tinggal pada satu negeri saja. Namun menyebar dari kota Madinah yang merupakan kota memancarnya cahaya Islam, kemudian mereka berteguh hati untuk berpisah, terpencar ke seluruh wilayah yang ditaklukkan Islam. Lalu mereka membawa serta ilmu mereka yang didapat dari Rasulullah Saw., lalu banyak tabi’in yang belajar dari mereka. kemudian muncullah aliran-aliran yang bermacam-macam pada setiap wilayah tersebut.
4. Terdapat tiga aliran tafsir yang terkenal, yaitu;
• Aliran tafsir di Mekkah, yang didirikan oleh Ibnu Abbas. Diantara murid-murid beliau yang terkenal adalah Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah dan banyak lainnya yang semuanya merupakan kalangan mawalli (seorang budak yang tetap setia kepada tuannya walaupun telah dibebaskan).
• Aliran tafsir di Madinah , yang didirikan oleh Ubay bin Ibnu ka’ab. Tabi’in yang terkenal pada aliran ini yaitu Zaid bin Aslam, Abu al-Aliyah dan Muhammad Ka’ab al-Qurdzi.
• Aliran tafsir di Iraq, yang didirikan oleh Ibnu mas’ud. Ibnu Mas’ud dianggap sebagai guru pertama aliran ini dan menjadi pengajar di Kufah atas perintah Umar Ra. Dan penduduk Iraq diistimewakan dengan ahlur ro’yi karena banyaknya perbedaan pendapat diantara mereka.
5. Kedudukan tafsir yang dinukilkan pada tabi’in
• Dinukil dari imam Ahmad bin Hambal bahwa tafsir para tabi’in bisa diterima dan bisa tidak diterima.
• Menurut sebagian ulama mengenai tafsir tabi’in ini tidak dapat di terima. Ibnu aqil sependapat dengan hal ini. Alasan yang menyetujui pendapat ini ialah karena
- Para tabi’in tidak mendengar langsung dari Nabi Saw. sehingga ia tidak bisa digolongkan seperti tafsir para sahabat yang mereka mendengar bisa jadi langsung dari Rasulullah Saw.
- Para tabi’in tidak dalil dan kondisi-kondisi yang Alquran diturunkan karenanya. Sehingga bisa saja mereka salah dalam memahami maksudnya atau menduga sesuatu yang bukan dalil sebagai dalil.
- Di samping itu, ‘adalah (keadilan) para tabiin tidak titetapkan secara nash, sebagaimana ‘adalah para sahabat.
• Menurut kebanyakan mufassir bahwa tafsir ini bisa diambil Karena para tabiin menerima sebagian besar ilmu mereka dari para sahabat dalam tafsir mereka.

6. Dari beberapa pendapat tersebut yang bisa kita ambil kesimpulan bahwa tafsir para tabi’in tidak wajib diambil kecuali dalam ranah yang tidak dapat dijangkau akal. Jika kita ragu jikalau ia mengambil dari ahlul kitab, maka kita boleh meninggalkannya dan tidak bersandar kepadanya. Sedangkan jika semua tabi’in berpendapat sama dalam suatu hal maka wajib mengambilnya.
7. Keistimewaan Tafsir pada periode tabi’in
• Banyak Isro’iliyyat di dalam tafsir karena banyaknya ahlul kitab yang masuk Islam.
• Penyampaian tafsir dengan cara talaqqi dan periwayatan, hanya saja tidak makna menyeluruh.
• Munculnya benih-benih perbedaan mazhab.
• Banyaknya perbedaan pendapat di kalangan tabi’in dalam tafsir sebagaimana yang terjedi di kalangan sahabat, meskipun perbedaan tersebut hanya sedikit pada kalangan ahli tafsir belakangan.
Pada pembahasan kedua kitab Al-Itqân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân, terdapat poin-poin sebagai berikut,
1. Ulama fiqih, qiraat dan ulama kalam berpendapat bahwa mushaf Utsmani memuat seluruh tujuh huruf tersebut. mereka membangun pendapat ini bahwasanya umat ini tidak layak menganggap remeh penukilan sesuatupun dari mushaf tersebut. Para sahabat juga bersepakat atas penukilan mushaf Utsmani dari mushaf yang ditulis oleh Abu Bakar dan juga bersepakat untuk meninggalkan selain dari mushaf itu.
2. Mayoritas ulama salaf (terdahulu), khalaf (setelahnya) dan para imam kaum muslimin berpendapat bahwa mushaf Utsmani tersebut memuat apa yang mungkin menjadi gambaran dari tujuh huruf saja, mencakup bacaan terakhir yang dibacakan Nabi Saw. kepada Jibril As. dan tidak meninggalkan satu huruf pun.
3. Ibnul Jazari berkata, “pendapat ini (kedua) yang tampak kebenarannya.” Pendapat pertama dijawab dengan perkataan Ibnu Jarir bahwa qiraat dengan tujuh huruf tidaklah diwajibkan untuk umat, itu hanyalah peringanan untuk mereka...”
Pada pembahasan ketiga, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
Tafsir dari surah an-naml ayat 92.
1. Dalam tafsir ath-Thabariy, maksud dari ayat ini bahwa kebaikan yang diterima untuk diri sendiri ialah ketika mengikuti Rasulullah dan apa yang beliau bawa serta mengikuti jalan yang benar, semua hal tersebut pula yang memjadikan aman dari bencana dunia dan azab akhirat. Sedangkan siapa yang menyimpang dari jalan yang benar dengan mendustakan Nabi dan risalah yang ia bawa, maka Rasulullah hanyalah memberi peringatan. Jika mereka menerima, maka mereka mendapat kebaikan untu diri mereka sendiri, tetapi jika mereka menolak, maka mereka telah berbuat jahat untuk diri mereka sendiri.
2. Dalam tafsir Ibnu Katsir, bahwa Nabi Saw. sama saja dengan para rasul terdahulu yang hanya memberi peringatan dan menyampaikan risalah kepada kaumnya, sedangkan perhitungan amal mereka adalah urusan Allah Swt. Dalam tafsir as-Samarqandy makna orang orang sesat ialah orang-orang yang tidak mengesakan Allah, tidak beriman kepada Rasulullah dan Alquran. Dalam tafsir al-Fakhrur Rozi, orang yang sesat tidak akan menjadi tanggungan nabi Saw (dosa mereka). beliau tidak lain hanyalah pemberi peringatan.
3. Dalam tafsir Al-Bahrul Muhith, bahwa orang yang mengesakan Allah Swt., beriman kepada Nabi Saw. dan risalah yang beliau bawa, maka manfaat petunjuknya hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan siapa yang sesat, maka bencana kesesatannya hanya akan menimpa dirinya sendiri. Rasul hanya memberi peringatan sedangkan Allah Swt. lah yang memberi hidayah.
4. Dalam tafsir al-Wasith, bahwa siapa yang berpaling dari petunjuk setelah diberi nasehat, maka rasul hanyalah pemberi peringatan bagi orang yang sesat, ia bukan penjaga untuk mereka dan tidak juga memaksa mereka untuk beriman.

#DPKeilmuan_KEMASS
#2017-2018
#DuniaKajianTafsir

SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: