Sunday, October 29, 2017

(Pertemuan Ke-10) Kajian Reguler Tafsir

DP KEILMUAN KEMASS
LAPORAN HASIL KAJIAN REGULER TAFSIR
# Pertemuan Ke-10
# Selasa, 24 Oktober 2017
.
Alhamdulillah atas segala nikmat-Nya dan salawat serta salam kepada Habib al-Mushthofa Muhammad Saw., pertemuan ke-10 kajian reguler tafsir kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun telah terlaksana dengan lancar.
Seperti biasanya, terdapat tiga pembahasan kajian yang diambil dari kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun, Al-Itqân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân dan kitab-kitab tafsir bil ma’tsûr, bi ar-ra’yi dan lainnya.
Pembahasan kali ini dimulai dengan pembahasan keempat dari bab kedua kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun hlm. 121-126 yang berjudul, “Perbedaan Penafsiran di Kalangan Ulama Salaf Saleh.” Pembahasan ini dimulai dengan beberapa pertanyaan, di antaranya: 
• Apakah ulama salaf satu pendapat dalam penafsiran terhadap al-Quran setelah wafatnya Rasulullah Saw.? Adakah perbedaan pendapat di antara mereka? Dan bagaimana bentuk perbedaan tersebut?
• Adanya perbedaan pendapat dalam penafsiran terhadap teks-teks syariat di kalangan salaf terdahulu mengindikasikan apa?
•Apakah berarti hanya ada satu cara dalam memahami teks-teks agama? Ataukah terdapat beragam variasi metodologi dan penafsiran terhadap teks-teks agama?
•Bagaimana menyikapi perbedaan penafsiran di kalangan ulama salaf terdahulu? Lalu bagaimanakah menyikapi perbedaan di kalangan generasi-generasi selanjutnya sampai ke generasi kita saat ini?
•Bagaimana cara atau metode memahami dua pendapat atau lebih yang saling bertentangan dari para ulama salaf?
Lalu, pada pembahasan kedua dari kitab Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Quran terdapat sebuah pertanyaan pula, yaitu; Apa saja nama-nama Al-Quran? Kenapa dinamakan demikian?
Kemudian, pada pembahasan terakhir yaitu tentang tafsir surat Al-An’am ayat 104, terdapat pula beberapa pertanyaan, di anatarnya;
• Apakah penyampai berarti memaksa, dalam artian, apakah memberi nasehat berarti memaksa orang lain untuk mengikutnya?
• Untuk siapa kebaikan yang diperoleh ketika seseorang mengikut kebenaran yang disampaikan kepadanya? Apakah untuk dirinya sendiri? Ataukah untuk yang memberikan nasehat atau menunjukkan kebenaran itu? Sebaliknya, jika ia menolak mengikut kebenaran atau nasehat tersebut, apakah akan membahayakan sang pemberi nasehat, atau justru akan membahayakan dirinya sendiri?
• Apakah fungsi Nabi dan Rasul sebenarnya?
• Apakah kewajiban pewaris Nabi dan Rasul (ulama) setelahnya?
• Apakah seorang ulama mengajak orang lain kepada kebaikan demi keuntungan dirinya sendiri? Baik keuntungan ekonomi, ketenaran, kemudahan hidup dll?
Pada pembahasan pertama dari buku At-Tafsir wa Al-Mufassirun terdapat beberapa poin hasil kajian, uraiannya sebagai berikut;
Pada pembahasan pertama terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Berbagai ilmu adab, akal dan alam yang telah dikodifikasi maupun perbedaan fikih dan kalam belum sedikitpun muncul pada masa sahabat dan tabi’in, meskipun telah terdapat benih-benih (perbedaan) yang kemudian berkembang dan bercabang setelahnya. Inilah keadaan yang terjadi pada masa sahabat dan tabi’in. Wajar saja jika ranah perbedaan dalam tafsir masih sempit pada kedua fase ini dari beberapa fasenya.
2. Ulama salaf dahulu tidak selalu satu pendapat dalam menafsirkan al-Quran. Maka dari itu, tidak heran jika di kalangan mereka sudah terdapat perbedaan dalam hal ini—walaupun masih sangat sedikit. Seperti, perkataan seorang sahabat berbeda dengan sahabat lain, begitu juga dengan seorang tabi’in, bahkan banyak kita temui satu orang mengucapkan dua pendapat yang berbeda dalam satu permasalahan.
3. Dalam memahami dan penafsiran terhadap teks-teks agama bukan hanya satu metode. Melainkan terdapat beragam variasi metodelogi dalam memahami dan menafsirkan.
4. Jika kita meneliti perkataan-perkataan ulama salaf dalam tafsir yang dinukilkan kepada kita, kita akan langsung mendapati banyak perkataan yang berbeda beda dalam satu masalah. Perkataan seorang sahabat, berbeda dengan sahabat yang lain, begitu juga tabi’in. Bahkan sering kali kita menjumpai dua pendapat yang berbeda dalam satu masalah yang dikatakan oleh satu orang yang sama. Apakah ini bermakna bahwa ranah perbedaan dalam tafsir telah meluas pada masa sahabat dan tabi’in? Apakah seorang sahatat atau tabi’in menyelisihi dirinya sendiri dalam satu permasalahan? Tidak, ranah perbedaan dalam tafsir belumlah meluas dan seorang sahabat tidaklah menyeisihi dirinya sendiri dalam satu masalah. Hal itu karena pertentangan dalam tafsir yang sahih dari mereka merujuk kepada perbedaan ungkapan, atau perbedaan macam dan bukanlah perbedaan yang bersifat berlawanan dan bertentangan sebagaimana yang disangka banyak orang.
5. Adanya perbedaan pendapat dalam penafsiran terhadap teks-teks syariat di kalangan salaf dahulu mengindikasikan bahwa banyak yang sahih diriwayatkan dari ulama salaf mengenai perbedaan dalam penafsiran merujuk kepada perbedaan seperti cara pengungkapan, atau perbedaan jenis. Tidak bermakna pertentangan sebagaimana yang dikira orang lain, kemudian menceritakannya bahwasanya pendapat-pendapat ini kontradiktif dan bukan pendapat yang bisa digabungkan.
6. Setelah kita membahas pendapat-pendapat (para sahabat maupun tabi’in) yang berbeda tapi tidak bertentangan, kita dapat dapat mengembalian perbedaan tersebut kepada beberapa perkara.
• Setiap mufassir mengungkapkan sebuah maksud dengan ungkapan yang berbeda dengan sahabatnya yang ungkapan tersebut saling berlainan makna, akan tetapi sama-sama menunjuk kepada satu hal. Seperti asmaul husna, nama-nama rasul dan nama-nama Alquran.
• Masing-masing mereka menyebutkan sebagian jenis dari hal yang umum dengan cara menyebutkan permisalan. Bukan dengan cara pendefinisian. Seperti menafsiran kata saabiq, muqtashid dan zalim. Ada yang menafsirkan saabiq dengan orang yang melakukan salat pada awal waktu dan ada yang menafsirkan dengan orang yang berzakat sekaligus bersedekah. Perbedaan dalam penafsiran semacam ini tidak menyebabkan sebuah pertentangan, karena hakikatnya dalam makna yang umum adalah sama.
• Sebuah lafaz mengandung dua perkara atau lebih, baik itu lafaz musytarak (1 lafaz banyak makna) atau lafaz mutawathi’ (banyak lafaz satu makna).
• Mereka mengungkapkan makna dengan lafaz yang berdekatan maknanya tapi mutaradif (sinonim).
• Pada satu ayat terdapat dua qiraat atau lebih sehingga mereka masing-masing menafsirkan berdasarkan qiraat tertentu, hingga hal itu disangka perbedaan padahal bukan.
Inilah beberapa segi yang dengannya kita bias menyatukan antara pendapat-pendapat yang tampak saling bertentangan (padahal tidak). Sedangkan perbedaan yang terdapat dalam tafsir dan tidak bisa dikumpulkan maka hal ini jarang terjadi atau hanya perbedaan yang ringan.sebagaimana yang dikatakan Ibnu Taimiyah (dalam Muqaddimah fi at-Tafsir) hlm 12.
Dari perbedaan ini mengajarkan kita untuk menerima dengan lapang dada dan tidak saling menyalahkan pendapat satu sama lain, atau mengklaim bahwa pendapat yang ia pilih adalah paling benar. Khususnya pada generasi saat ini. Karena benih perbedaan ini sudah tumbuh pada masa salaf saleh dahulu.


7. Metode dalam memahami dua pendapat atau lebih yang saling bertentangan dari para ulama salaf adalah dengan melihat kepada siapa perbedaan itu dinukilkan. Apabila terdapat yang sahih dan lemah, maka yang sahih didahulukan. Jika sama-sama sahih dan kita mengetahui ada pendapat yang terakhir dari salah satunya, maka didahulukan pendapat yang terakhir. Apabila kita tidak mengetahuinya, maka kita kembalikan permasalahan ini kepada riwayat yang lebih kuat. Jika kita tidak menemukan teks atau riwayat yang lebih kuat, maka dengan cara mencari dalil atau konklusi untuk menguatkan salah satunya, kemudian kita memilih pendapat yang telah dikuatkan oleh dalil tersebut dan meninggalkan selain itu. Apabila dalil-dalil tersebut kontradiktif, maka kita harus mengimani dan menyerahkan yang dikendaki Allah Swt., tanpa bersikeras untuk menentukan salah satu dari dua pendapat tersebut. Ketika itu permasalahan tersebut berada pada posisi mujmal sebelum merincinya dan mutasyabih sebelum menjelaskannya.
Adapun poin pembahasan kedua dari kitab Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Quran adalah: Perlu kita ketahui, bahwa Allah Swt. menamakan Al-Quran dengan lima puluh lima nama, di antaranya: 
a. Kalam Allah (Al-Waqi’ah: 77). Dinamakan demikian karena derivasi dari kata al-Kalm bermakna at-Ta’tsir (pengaruh). Karena al-Quran dapat membekas atau berpengaruh sebagai faedah bagi siapa yang mendengarnya,
b. Nûr (An-Nisa’: 174). Dinamakan demikian karena dengannya (al-Quran) dapat diketahui perkara-perkara yang halal dan haram,
c. Huda wa Rahmah (Yunus: 57). Dinamakan demikian karena di dalamnya terdapat petunjuk kebenaran,
d. Furqân (Al-Furqan; 1). Dinamakan demikian karena al-Quran membedakan mana yang hak dan batil,
e. Syifa’ (Al-Isra’: 82). Dinamakan demikian karena al-Quran dapat menyembuhkan penyaki-penyakit hati. Seperti kekufuran, kebodohan, dendam, dan dengki serta penyakit-penyakit jiwa juga,
f. Dzikr Mubârak (Al-Anbiya’: 50). Sedangkan dinamakan demikian karena di dalam al-Quran terdapat nasehat-nasehat dan cerita umat-umat terdahulu. Adz-Dzikru juga bermakna mulia, sebagaimana firman Allah Swt., “Dan sungguh, al-Quran itu benar-benar suatu peringatan bagimu dan bagi kaummu..” Atau mulia karena dengan bahasa kaum tersebut.
g. Hikmah (Al-Qamar: 5). Dinamakan demikian karena turun berdasarkan undang-undang yang sah, atau karena mengandung hikmah,
h. Hakîm (Yunus: 1). Dinamakan demikian karena disampaikan ayat-ayatnya dengan susunan yang menarik dan makna-makna yang sangat bagus serta kokoh dari perubahan, penyelewengan dan pertentangan.
Lalu pembahasan ketiga dari kitab tafsir Imam Ath-Thabari, Imam Qurthubi, Dr. Wahbah Zuhaili (At-Tafsir Al-Munir), Imam Fakhru Ar-Razi dan Imam Alusi (Ruh Al-Ma’ani). Adapun beberapa poin dari hasil kajian adalah sebagai berikut;
1. Seorang penyampai atau pemberi nasehat tidak berarti memaksa orang lain untuk mengikutinya. Melainkan ia hanyalah seorang penyampai (kebaikan) atau penasehat dan tidak lebih dari itu.
2. Apabila seseorang mengikuti kebaikan yang disampikan kepadanya, kebaikan itu hanyalah untuk dirinya sendiri. Bukan untuk penyampai ataupun orang lain. Adapun jika dia berpaling dari kebenaran tersebut, maka mara bahaya pun ada di tangannya, bukan pula ada pada orang lain.
3. Fungsi Nabi dan Rasul sebenarnya adalah hanyalah utusan (rasul) yang menyampaikan risalah kepada umatnya. Bukanlah seorang penjaga, pengawas, wakil dan yang menghitung serta yang membalas amal-amal umatnya. Melainkan itu semua ada di tangan Allah Swt.
4. Kewajiban ulama adalah menasehati dan mengajak kepada kebaikan. Tidak berhak bagi seorang ulama untuk memaksakan orang lain untuk mengikuti apa yang ia sampaikan. Ketika seorang ulama mengajak kepada kebaikan, semata-mata bukanlah demi keuntungan dirinya sendiri. Baik keuntungan ekonomi, ketenaran, kemudahan hidup dan lain sebagainya. Melainkan kebaikan itu semua bagi penerima (kebaikan).
#DPkeilmuan_KEMASS
#2017-2018
#DuniaKajianTafsir

SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: