Sunday, October 29, 2017

(Pertemuan Keempat) Kajian Reguler Tafsir

DP KEILMUAN KEMASS
LAPORAN HASIL KAJIAN REGULER TAFSIR
Pertemuan Keempat
Selasa, 22 Agustus 2017
 .
Alhamdulillah, pertemuan keempat kajian reguler tafsir kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun telah terlaksana dengan lancar.
Pada pertemuan ini, terdapat satu pembahasan kajian, yaitu mengkaji pembahasan kedua, tentang Tafsir Al-Quran bi Ghairi Lughatihi (Menafsirkan Alquran dengan bukan menggunakan bahasa Arab) yang terletak pada bagian muqaddimah (pendahuluan) kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun. 
Pada pembahasan ini, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Terjemah Alquran dengan bukan menggunakan bahasa Arab atau terjemah tafsiriyyah Alquran merupakan pembahasan yang dipandang perlu untuk dipaparkan, karena keterikatannya yang erat dengan objek pembahasan kitab ini.
2. Terjemah secara etimologi memiliki dua makna,
• Memindahkan ucapan dari satu bahasa ke bahasa lain tanpa menjelaskan makna asli yang diterjemahkan. 
• Memindahkan ucapan disertai penjelasan maknanya dengan bahasa lain.
3. Berdasarkan hal tersebut, terjemah terbagi dua; terjemah harfiyah dan terjemah maknawiyah atau tafsiriyah.
• Terjemah harfiyah: Memindahkan ucapan dari satu bahasa ke bahasa lain dengan memperhatikan kesesuaian nazom dan susunan aslinya, serta tetap menjaga seluruh makna asli dari bahasa yang diterjemahkan.
• Terjemah tafsiriyah: Menjelaskan ucapan dan menerangkan maknanya dengan bahasa lain, tanpa memperhatikan kesesuaian nazom dan susunan aslinya, serta tanpa menjaga seluruh makna asli yang dimaksud darinya. Dari kedua macam terjemah ini, terjemah manakah yang masuk dalam kategori tafsir? Penjelasannya di bawah ini.
4. Terjemah harfiyah Alquran; terjemah bil mitsli (betul-betul persis) dan terjemah bighairi mitsli (tidak begitu persis).

• Terjemah bil mitsli (betul-betul persis): maksudnya menerjemahkan susunan Alquran ke bahasa lain dengan mengikuti jejak demi jejak, yaitu dengan menerjemahkan kosa kata dan uslubnya ke bahasa lain persis di tempatnya hingga terjemahan mengandung apa yang dimuat oleh susunan aslinya yang berupa makna-makna terikat, metode balaghah dan hukum yudisprudensialnya. Terjemahan semacam ini tidak mungkin diterapkan pada Alquran, karena Alquran turun dengan dua tujuan utama.
Pertama, Ayatnya yang menunjukkan kebenaran apa yang disampaikan Nabi Saw. dari Tuhannya karena statusnya sebagai mukjizat bagi manusia, yang mana mereka tidak mampu membuat satu surah pun semisal Alquran. Maka dari itu, disepakati bahwa Alquran tidak mungkin diterjemahkan dengan terjemah semacam ini, karena Alquran terdapat keistimewaan pada setiap ayatnya berupa keistimewaan balaghah yang datang dengan maksud-maksud tertentu. Disepakati juga bahwa keistimewaan ini tidak mungkin dipindahkan ke bahasa lain. Karena, bahasa yang tinggi kendatipun memiliki balaghah, akan tetapi setiap bahasa memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki bahasa lain. Dengan demikian, jika Alquran diterjemahkan secara harfiyah—dan hal ini mustahil—maka keistimewaan balaghah Alquran akan hilang. Ia akan turun dari tingkat mukjizat ke tingkatan yang masuk pada batas kemampuan manusia dan hilangkah maksud utama Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
Kedua, Sebagai hidayah bagi manusia karena di dalamnya terdapat kebaikan bagi mereka di dunia dan akhirat. Hal itu dengan cara menyimpulkan hukum-hukum dan petunjuk dari Alquran. Hal demikian sebagiannya kembali pada makna-makna asli dapat memahaminya dan menyampaikannya dan dapat diatasi oleh semua bahasa. Makna-makna semacam ini dapat diterjemahkan dan diambil hukum-hukum darinya. Sebagian yang lain, hukum-hukum dan petunjuk dapat juga diambil dari makna-makna sekunder. Hal in banyak kita temui pada penyimpulan hukum di kalangan para imam mujtahid; karena makna sekunder ini suatu yang lazim bagi Alquran yang tanpanya ia tidak dapat dikatakan sebagai Alquran. Meskipun terjemah harfiyah dapat menjaga makna makna primer, hanya saja ia tidak dapat menjaga makna-makna sekunder; mengingat urgennya makna sekunder bagi Alquran dari pada semua bahasa lain. Dari sini dapat diketahui bahwa terjemah harfiyah Alquran tidak dapat menjalankan seluruh hal yang dikehendaki Alquran; karena dampaknya yang berupa lenyapnya keseluruhan dari tujuan awal dari Alquran dan hilangnya sebagian tujuan Alquran pada tujuannya yang kedua.
• Terjemah bighairi mitsli (tidak begitu persis): maksudnya menerjemahkan Alquran dengan mengikuti jejak demi jejak sesuai ukuran kemampuan penerjemah dan bahasa yang dicakupnya. Hal ini memungkinkan, kendati boleh dilakukan pada ucapan manusia, hanya saja tidak boleh dilakukan kepada Alquran; karena terdapat penghancuran nazom Alquran oleh pelakunya, perusakan makna dan pelanggaran pada kesuciannya, disamping hal ini tidak terlalu diperlukan.
5. Terjemah harfiyah—dengan kedua bagiannya—tidak bisa dikatakan sebagai tafsir Alquran (dengan bahasa lain), karena terjemah bil mitsli (betul-betul persis) tidak mungkin diterapkan pada Alquran; karena walau dengan asumsi kemungkinannya, ia masih bukan termasuk tafsir Alquran (dengan bahasa lain); karena ia hanya ungkapan kerangka Alquran secara zatnya, hanya saja berbeda bahasanya. Atas dasar ini, Alquran yang diterjemahkan ke dalam bahasa lain juga membutuhkan penjelasan hal-hal yang ada di dalamnya berupa rahasia dan hukum-hukum, mengingat bahwa terjemahan ini tidak memiliki penjelasan di dalamnya, ia hanyalah memindahkan lafaz ke lafaz lain dan dari makna bahasa satu ke bahasa lain. Begitu juga terjemah bighairi mitsli (tidak begitu persis) tidak boleh diterapkan pada Alquran; karena walau dengan asumsi kemungkinannya, ia masih bukan termasuk tafsir Alquran (dengan bahasa lain); karena ia hanya ungkapan kerangka Alquran yang manqush (tidak sempurna). Terjemahan ini tidak lain hanya mengganti lafaz ke lafaz lain yang digunakan dalam menyampaikan sebagian maknanya, sedangkan di dalamnya tidak terdapat penjelasan, penyingkapan dan hal-hal lainnya yang dimuat dalam tafsir yang dikenal.
6. Terjemah tafsiriyah/maknawiyah Alquran. Terjemah ini—telah dijelaskan sebelumnya—dilakukan dengan memahami makna yang dimaksud oleh (bahasa) asalnya, lalu menjelaskannya dengan susunan bahasa yang akan diterjemahkan kepadanya yang disampaikan sesuai dengan maksud yang sebenarnya. Untuk lebih jelasnya terdapat contoh berikut. Jika seseorang ingin menerjemahkan firman Allah Swt. (ولا تجعل يدك مغلولة الى عنقك ولا تبسطها كل البسط) (الاسراء: 29) dengan terjemah harfiyah, pastilah menghasilkan ucapan yang menunjukkan larangan mengikat tangan ke leher dan larangan menjulurkan tangan. Ungkapan semacam ini pada bahasa terjemahan (selain arab) boleh jadi tidak dapat menyampaikan apa yang dimaksudkan Alquran, bahkan boleh jadi pemilik bahasa tersebut mengingkari ketetapan yang dilarang Alquran, lalu ia berkata dalam hati, tidak ada satupun orang berakal akan melakukan perbuatan yang dilarang Alquran ini, karena hal tersebut dapat mengundang tawa bagi pelakunya dan ia akan dijauhi. Tidak terdetik di hati pemilik bahasa tersebut sebuah makna yang dimaksudkan Alquran di balik hal itu terdapat metafora yang luar biasa. Sedangkan jika ia ingin menerjemahkannya secara tafsiriyah, maka akan menghasilkan larangan mubazir dan pelit yang digambarkan dengan gambaran yang sangat jelek, hingga membuat orang lain lari darinya. Dari sini jelaslah tujuan yang dimaksudkan Allah Swt pada ayat ini. Dengan terjemah tafsiriyah ia dapat dipahami dengan mudah dan jelas, dibanding menggunakan terjemah harfiyah.
7. Perbedaan antara tafsir dan terjemah tafsiriyah terletak pada dua sisi, pertama, perbedaan kedua bahasa; tafsir menggunakan bahasa aslinya (arab), berbeda dengan terjemah tafsiriyah yang menggunakan bahasa lain (selain arab). Kedua, pembaca tafsir dan orang yang benar-benar memahami Alquran mampu memperhatikan nazom asli Alquran dan pendalilannya, jika ia menemui sebuah kesalahan ia akan sadar dan memperbaikinya. Sedangkan orang yang sekedar bisa membaca terjemahan, tidak mampu melakukan hal itu karena ketidak tahuannnya dengan nazom Alquran dan pendalilannya. Sedangkan ketika ia ingin merujuk kepada aslinya untuk melakukan perbandingan dengan terjemahan, ia tidak mampu melakukannya selama ia tidak memahami bahasa Arab.
8. Syarat-Syarat terjemah tasfiriyyah, tafsir Alquran termasuk ilmu yang wajib dipelajari oleh umat, begitu juga terjemah tafsiriyah (selain bahasa arab). Bahkan merupakan hal yang ditekankan karena dampaknya yang berupa kemaslahatan yang sangat urgen sebagai penyampaian makna-makna Alquran dan penyampaian petunjuknya kepada kaum Muslim maupun nonmuslim. Adapun Syarat terjemah tafsiriyah Alquran sebagai berikut, pertama, Terjemahan haruslah berdasarkan tafsir, ia diambil hanya dari sumber yang terpercaya berupa Hadis nabawi, ilmu sastra Arab dan asas-asas yang telah kokoh dalam syariat Islam. Jika tidak demikian atau bersandar pada tafsir yang tidak diakui, maka terjemahan tersebut tidak dapat dijadikan sandaran. Kedua, penerjemah harus jauh dari kecenderungan akidah rusak yang menyelisihi Alquran. Ketiga, penerjemah harus menguasai dua bahasa. (bahasa arab dan bahasa lain yang dituju). Keempat, hendaknya menuliskan Alqurannya terlebih dulu, lalu tafsirnya, kemudian diikuti dengan terjemahan tafsiriyahnya, hingga tidak ada yang menduga bahwa terjemahan ini adalah terjemah harfiyah Alquran.
#DPKeilmuan_KEMASS
#2017-2018
#DuniaKajianTafsir

SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: