Sunday, October 29, 2017

(Pertemuan Keenam) Kajian Reguler Tafsir

DP KEILMUAN KEMASS
LAPORAN HASIL KAJIAN REGULER TAFSIR
# Pertemuan Keenam
# Selasa, 19 September 2017
 .
Alhamdulillah, pertemuan keenam kajian reguler tafsir kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun telah terlaksana dengan lancar.
Pada pertemuan ini, terdapat tiga pembahasan kajian, yaitu,
1. Mengkaji pendapat para ulama seputar masalah apakah Nabi Muhammad Saw. menjelaskan/menafsirkan seluruh ayat Alquran kepada para sahabat atau hanya sedikit saja. Kemudian mendiskusikan pendapat-pendapat tersebut dan menentukan sikap/pilihan terhadap masalah ini. Pembahasan ini terdapat pada kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun vol.1, hal. 46-51.
2. Mengkaji tentang penurunan wahyu dari sisi wujud/bentuk malaikat ketika menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. Pembahasan ini terdapat pada kitab Al-Itqon fi Ulumi al-Quran vol.1, hal. 233-234.
3. Mengkaji surah Hud ayat 27 tentang jawaban Nabi Nuh As. kepada kaumnya yang mendustakan dan menolak risalah/nasehat yang ia bawa dari sisi Tuhannya. Pembahasan ini merujuk kepada beberapa kitab tafsir terkemuka, seperti tafsir ath-Thabari, tafsir Al-Kasyaaf, tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, Tafsir Al-Maraghiy, Al-Bahru Al-Madid fi Tafsiri al-Quran al-Majid.
Pada pembahasan pertama, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Para ulama berbeda pendapat mengenai ukuran banyaknya penjelasan/penafsiran ayat Alquran kepada para sahabat. Pertama, ada yang berpendapat bahwa Nabi Saw. menjelaskan seluruh makna-makna dan lafaz Alquran. Pendapat ini dipelopori oleh Ibnu Taimiyah, sebagaimana yang terdapat dalam kitabnya, Ushul at-Tafsir. Kedua, ada yang berpendapat bahwa Nabi Saw. hanya menjelaskan sedikit makna-makna dan lafaz Alquran kepada para sahabat. Pendapat ini diamini oleh As-Suyuthi di dalam kitabnya Al-Itqon fi Ulumil Quran.
2. Adapun dalil masing-masing kelompok sebagai berikut, kelompok pertama,
• Surah an-Nahl ayat 44. Kata al-bayan dalam ayat tersebut mempelajari makna-makna sebagaimana mempelajari lafaz Alquran, sedangkan Rasulullah Saw. telah menjelaskan seluruh lafaz Alquran, maka sudah pasti beliau juga telah menjelaskan makna-maknanya. Jika tidak begitu, berarti Nabi Saw. melalaikan tugas dalam menjelaskan ayat alquran yang diperintahkan Allah kepadanya.
• Riwayat dari Abi Abdirrahman as-Sulami ia berkata bahwa orang yang membacakan Alquran kepada kami seperti, Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud dan selainnya, jika mereka belajar 10 ayat Alquran dari Nabi. Saw., mereka tidak melampauinya hingga benar-benar mempelajari ilmunya dan pengamalkannya. Dengan demikian, mereka menghabiskan waktu yang lama dalam menghafal Alquran. Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar menghafal surah Al-Baqarah selama 8 tahun. Yang mendorong sahabat melakukan demikian adalah agar mereka mentadabburi Alquran (QS. shad: 29). Tadabbur tanpa pemahaman terhadap makna, tidak mungkin dan memikirkan perkataan mencakup pemahaman terhadapnya. Jika Ini berlaku pada setiap ucapan, maka AlQuran lebih utama dalam hal ini.
• Biasanya seseorang yang membaca kitab pasti mencari penjelasan terhadap apa yang ia baca, lalu bagaimana dengan Alquran yang merupakan kitab yang mengandung keselamatan mereka di dunia dan akhirat?!
• Riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Umar Ra. berkata, salah satu ayat yang terakhir turun adalah ayat tentang riba, dan Rasulullah Saw. meninggal sebelum menafsirkannya. Ini menunjukkan bahwa beliau dahulu telah menafsirkan seluruh ayat Alquran kepada mereka dan beliau hanya tidak menafsirkan ayat ini karena beliau cepat meninggal setelah ayat ini turun. Jika tidak demikian, tidak mungkin hanya ayat ini yang dikhususkan tidak dijelaskan oleh beliau.
3. Adapun dalil kelompok kedua sebagai berikut,
• Riwayat al-Bazzar dari Aisyah berkata, Rasulullah Saw. hanya menafsirkan sedikit saja ayat Alquran yang diajarkan Jibril kepadanya.
• Mereka berpendapat bahwa Penjelasan keseluruhan makna Alquran oleh nabi Saw. merupakan hal yang sulit dan tidak memungkinkan, melainkan pada sedikit ayat saja. Mengetahui sebuah maksud disimpulkan dari tanda dan dalil-dalil, sedangkan Allah Swt. tidak menyuruh NabiNya secara tekstual dalam menjelaskan semua ayatNya, dengan tujuan para hambaNya memikirkan kandungan KitabNya.
• Jika Rasulullah Saw. telah menjelaskan seluruh makna Alquran kepada para sahabatnya, tentunya beliau tidak akan menghususkan doanya untuk Ibnu Abbas “Allahumma Faqqihhu fiddiin wa ‘allimhu at takwil” karena penjelasan seluruh makna Alquran kepada para sahabat mengharuslan mereka sama dalam tingkatan pengetahuan takwil mereka, lalu bagaimana bisa beliau hanya mengkhususkan doanya untuk Ibnu Abbas?!
4. Dari kedua kelompok ini, terdapat sikap yang berlebih-lebihan. Dan setiap dalil dari kedua kelompok ini dapat didiskusikan. Adapun diskusi dalil kelompok pertama sebagai berikut,
• Pendalilan Ibnu Taimiyah dan pengikutnya dengan surah an-Nahl ayat 44 dalam masalah ini kurang tepat. Karena Rasulullah Saw. menjelaskan hal yang sulit mereka pahami dari ayat Alquran, bukan seluruh maknanya, yang sulit maupun yang tidak sulit.
• Pendalilan mereka tentang sebagian sahabat yang tidak melampaui 10 ayat hingga benar-benar mempelajarinya, juga tidak dapat menguatkan apa yang mereka klaim. Karena puncak dari fungsi dalil itu adalah bahwa mereka tidak melampauinya hingga memahami maksudnya dari Nabi Saw. dan ini lebih umum dari sekedar yang mereka pahami dari Nabi Saw. maupun dari sahabat mereka yang lain ataupun dari diri mereka sebagaimana Allah Swt. membukakan pikiran dan Ijtihad bagi mereka
• Adapun dalil ketiga, bahwa para sahabat memahami seluruh makna Alquran sebagaimana mereka paham kitab yang dibaca kaum mereka. Namun, hal ini tidak mengharuskan mereka untuk merujuk kepada Nabi Saw. dalam setiap lafaz Alquran.
• Sedangkan dalil keempat juga tidak mengena, karena kewafatan Nabi Saw. sebelum menafsirkan ayat tentang riba kepada mereka tidak menunjukan bahwa beliau telah menafsirkan seluruh makna Alquran kepada mereka. Boleh jadi ayat ini adalah salah satu ayat yang sulit bagi para sahabat memahaminya hingga harus merujuk kepada Nabi Saw. sebagaimana ayat yang sulit dari Alquran.
5. Adapun diskusi dalil kelompok kedua sebagai berikut,
• Pendalilan kelompok kedua dengan hadis Aisyah adalah pendalilan yang keliru. Karena hadis tersebut adalah munkar gharib. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Muhammad bi Ja’far az-Zubairi, ia orang yang math’un (ber aib). Kalaupun diasumsikan hadis tersebut sahih, maka ia dibawa kepada hal-hal yang gaib di dalam Alquran, penafsiran lafaz mujmal Alquran dan sejenisnya yang bersifat taiqifi (keterangan dari Allah).
• Adapun dalil kedua juga tidak mengena karena kejarangan apa yang datang dari Nabi Saw. dalam tafsir; sebab klaim mengenai kemungkinan penafsiran untuk ayat yang hanya sedikit dan kesukaran dalam menafsirkan seluruh Alquran, merupakan klain yang tidak dapat diterima. Sedangkan pendapat bahwa Nabi Saw. tidak diperintahkan secara tekstual dalam menafsirkan seluruh ayat agar manusia dapat memikirkan ayat Alquran, adalah klaim yang bukan apa-apa; karena Nabi diperintahkan untuk menjelaskan. Jikapun diasumsikan bahwa Alquran semuanya sulit dipahami para sahabat, Nabi Saw. tidaklah tercegah untuk menjelaskan semua ayat sesuai dengan perintah Allah Swt. kepadanya.
• Sedangkan dalil ketiga, seandainya kita setuju dalil ini dapat membuktikan bahwa Nabi tidak menafsirkan seluruh makna Alquran, maka kita tidak menerima bahwa dalil ini menunjukan bahwa ia hanya menafsirkan sedikit dari Alquran sebagaimana yang diklaim.
6. Sikap/pilihan kita terhadap masalah ini. Hendaknya kita mengambil jalan tengah dari kedua kelompok ini yaitu, Rasulullah Saw. telah menjelaskan banyak makna Alquran kepada para sahabat sebagaimana yang kita lihat dalam kitab-kitab sahih, akan tetapi tidak menjelaskan seluruh makna Alquran; sebab, di dalam Alquran terdapat ayat yang hanya Allah Swt. semata yang tahu, ada ayat yang hanya diketehui para ulama, ada ayat yang diketahui orang arab dari bahasa mereka dan ada ayat yang harus diketahui setiap orang. Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, ia berkata, “Tafsir ada 4 segi, pertama, tafsir yang diketahui orang Arab dari bahasa mereka, kedua, tafsir yang harus diketahui setiap orang, ketiga, tafsir yang diketahui para ulama, keempat, tafsir yang hanya diketahui oleh Allah Swt. 
.
Pada pembahasan kedua, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Ada beberapa cara malaikat dalam menyampaikan wahyu kepada Nabi Saw. pertama, Nabi Saw. didatangi malaikat seperti dentangan lonceng sebagaimana pada hadis sahih di Musnad Ahmad dari Abdullah bin Umar aku bertanya kepada Nabi Saw. ‘apakah kau merasakan wahyu? Beliau bersabda, “aku mendengar dentangan lonceng lalu saat itu aku diam, tidak sekalipun ia diwahyukan kepadaku melaikan sampai-sampai aku mengira ruhku terasa dicabut.”
2. Malaikat meniupkan wahyu ke dalam sanubari Nabi Saw. sebagaimana sabda beliau, “sungguh roh kudus (Jibril) meniupkan wahyu ke sanubariku.” HR. al-Hakim. Demikianlah, dan terkadang seperti kondisi pertama atau kedua dengan datang seperti salah satu dari kedua cara tersebut lalu menuipkannya ke hatinya.
3. Malaikat mendatanginya dalam wujud seorang lelaki lalu berbicara dengannya, sebagaimana hadis sahih, “terkadang malaikat berwujud laki-laki lalu berbicara kepadaku dan aku paham apa yang ia ucapkan.” Abu Awanah menambahkan dalam sahihnya “ini paling ringan bagiku.”
4. Malaikat mendatanginya dalam tidur.
5. Allah langsung berbicara kepadanya, baik dalam terjaga sebagaimana isra mi’raj ataupun dalam tidur sebagaimana hadis Mu’adz “Rabbku mendatangiku lalu berkata tentang apa penghuni langit berselisih” HR. Tirmidzi dan Ahmad.
.
Pada pembahasan ketiga, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Ayat 28 surah Hud menunjukan bahwa kita tidak boleh memaksa orang lain agar mengikuti ajaran Islam yang kita anut. Tugas kita hanyalah menyampaikan kebenaran, urusan mereka mau menerima atau menolak, kita serahkan kepada Allah Swt. Dalam tafsir At-Thabari kata ‘bayyinatin’ artinya ilmu, makrifah dan penjelasan dari Allah Swt. kata ‘rahmatan’ berarti taufiq, kenabian dan hikmah. Para ahli qiraat berbeda dalam bacaan (عميت) kebanyakan penduduk Madinah dan sebagian penduduk Basrah dan Kufah membacanya ‘amiyat’ artinya rahmat itu membutakan mereka hingga mereka tidak dapat hidayah. Sedangkan kebanyakan ahli qiraat kufah membacanya ‘Ummiyat dan ini yang utama.
2. Dalam tafsir al-kasyaf disebutkan bahwa sebuat hujjah/dalil sebagaimana dapat memberi petunjuk, juga dapat membuat orang menjadi buta (karena perbuatannya) sebagaimana orang buta yang dijadikan penuntun oleh suatu kaum, tidak akan mendapat petunjuk (sis-sia). Adapun makna qiraat Ubay (‘ammaha) bermakna mereka terus-menerus berpaling hingga Allah membiarkan mereka (tersesat) hingga hal tersebut membuat mereka buta dariNya.Tafsir senada juga terdapat dalam Tafsir Al-Maraghiy
3. Dalam tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, hamzah dalam kalimat ‘anulzimukumuhaa’ adalah istifham inkariy yang maknanya kita tidak memaksa mereka dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah Swt.. Adapun dalam Al-Bahru Al-Madid fi Tafsiri al-Quran al-Majid terdapat isyarat sufi yaitu, bahwa alhi sufi tidak memaksa orang lain untuk masuk ke dalam tarekat mereka jika mereka buta terhadap hal itu. Allahu a’lam.
.
#DPKeilmuan_KEMASS
#2017-2018
#DuniaKajianTafsir

SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: