Sunday, October 29, 2017

(Pertemuan Kelima) Kajian Reguler Tafsir

DP KEILMUAN KEMASS
LAPORAN HASIL KAJIAN REGULER TAFSIR
# Pertemuan Kelima
# Selasa, 29 Agustus 2017

.
Alhamdulillah, pertemuan kelima kajian reguler tafsir kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun telah terlaksana dengan lancar.
Pada pertemuan ini, terdapat tiga pembahasan kajian, yaitu,
1. Mengkaji bab pertama kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun, Al-Marhalah al-Ula li at-Tafsir au at-Tafsir fi ‘ahdi an-Nabi Saw. wa Ashabihi (fase tafsir yang pertama atau tafsir pada zaman Nabi Saw. dan para sahabat).
2. Mengkaji tentang cara penurunan wahyu dengan menyuguhkan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini, yang terdapat di dalam kitab al-Itqon fi Ulum al-Quran.
3. Mengkaji pendapat para ulama tentang esensi sesuatu yang diturunkan kepada Nabi Saw. yang terdapat di dalam kitab al-Itqon fi Ulum al-Quran.
Pada pembahasan pertama, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Pada bagian tamhid (pendahuluan) pasal pertama pada bab pertama kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun, terdapat pembahasan tentang pemahaman Nabi Saw. dan para sahabat terhadap Alquran. Alquran diturunkan kepada Nabi dan kaum yang ummiy (tidak mampu baca tulis). Ummiy adalah penisbatan kepada ummun (ibu). Orang Arab menyebutnya demikian karena keadaannya yang sekarang masih sama dengan keadaan ketika ia dilahirkan oleh ibunya. Maka ia disebut ummiy (orang yang tidak mampu baca tulis). Istilah ini begitu unik karena menunjukkan ketidak mampuan, akan tetapi tidak terdapat kesan aib atau menghina. Walau demikian, mereka memiliki seni bahasa yang tinggi, termuat di dalamnya perkataan hakikat maupun metafora, berterus terang maupun sindiran, serta ucapan yang efektif maupun yang panjang lebar.
2. Merupakan sunnatullah dalam pengutusan rasul, bahwasanya Alquran diturunkan dalam lafaz bahasa Arab, kecuali sebagian kecil lafaz yang ulama berbeda pendapat padanya. Namun, atas pendapat-pendapat yang ada, lafaz-lafaz tersebut tidak mengeluarkan status Alquran dalam bahasa Arab.
3. Pada uslub Alquran, terdapat hakikat dan majaz, tasrih dan kinayah, serta ijaz dan ithnab sebagaimana cara orang arab dalam berbicara, hanya saja Alquran lebih tinggi dibanding perkataan orang Arab biasa sebagai wujub i’jaz (mukjizat)nya dan statusnya yang bersumber dari Allah Swt.
4. Pemahaman Nabi Saw. dan para sahabat terhadap Alquran. Nabi Saw. secara natural mengetahui Alquran baik secara umum maupun terperinci setelah Allah Swt menjaminnya dalam penjagaan dan penjelasannya, demikian juga para sahabat memahami Alquran secara umum dalam bentuk zahirnya dan hukum-hukumnya. Adapun pemahaman mereka secara terperinci den mengetahui hal-hal yang rumit maka hal ini tidak mudah bagi mereka hanya dengan pengetahuan mereka terhadap bahasa Alquran, akan tetapi mereka harus membahas, memikirkan dan bertanya kepada Nabi Saw tentang hal-hal yang sulit bagi mereka.
5. DR. Husein adz-Zahabi tidak sependapat dengan perkataan Ibnu Khaldun ketika ia berkata dalam kitabnya ‘muqaddimah ibn Khaldun’, “Sesungguhnya Alquran turun dalam bahasa Arab dan sesuai dengan uslub balaghah mereka. mereka semua dapat memahami dan mengetahui makna-makta yang terdapat pada setiap kosa-kata dan susunan-susunannya” ia tidak sependapat karena penurunan Alquran dalam bahasa Arab tidak semerta-merta membuat orang Arab dapat memahami semua kosa kata dan susunan-susunannya. Bukti yang paling dekat untuk hal ini adalah kitab-kitab yang kita lihat pada hari ini yang bahasanya berbeda-beda dan banyak bahasa-bahasa lain yang tidak mampu memahami banyak hal yang terdapat pada kitab-kitab itu dengan bahasa mereka. sebab, sebuah pemahaman tidak hanya tergantung pada pengetahuan bahasa saja, akan tetapi setiap orang yang memeriksa dan membahas makna-maknanya harus memiliki bakat akal khusus yang sesuai dengan tingkatan kitab dan kekuatan karangannya.
6. Perbedaan tingkatan sahabat dalam memahami Alquran. Jika kita kembali ke masa sahabat, kita akan mendapati para sahabat tidak berada dalam derajat yang sama dalam memahami makna-makna Alquran, akan tetapi mereka derajat mereka berbeda-beda. Ada hal yang sulit pada sebagian mereka tampak jelas pada sebagian yang lain. Hal ini kembali pada perbedaan tingkat kekuatan aka mereka, perbedaan mereka dalam mengetahui hal-hal yang meliputi Alquran berupa kondisi yang terjadi dan hal-hal lain yang mengikutinya. Lebih dari itu, tingkatan mereka tidak sama dalam mengetahui makna-makna yang terdapat dalam berbagai kosa kata tersebut. Di antara kosa kata tersebut terdapat kosa kata yang samar bagi sebagian sahabat. Hal itu tidak masalah, karena bahasa tidaklah dikuasai melainkan oleh orang yang maksum (seperti nabi) dan seseorang tidak dapat mengklaim bahwa setiap individu dari suatu umat dapat mengetahui seluruh kosa kata dalam bahasanya.


7. Yang menjadi dalil atas pendapat ini diantaranya,
• Riwayat Abu Ubaidah dalam kitab al-Fadhail dari Anas, Bahwa Umar bin Khattab pernah membaca ayat ketika diatas mimbar (وفاكهة وأبا) lalu ia berkata, “kata al-fakihah telah kita ketahui, lalu apa itu الأب ? kemudian ia berpikir lalu berkata, sungguh memikirkan hal ini adalah membebani diri saja, wahai umar.”
• Riwayat Abu Ubaidah dari jalur Mujahid dari Ibnu Abbas ia berkata, “ Dulu aku tidak tau apa arti فاطر السموات hingga dua orang Arab badui mendatangiku sambil berebut perihal sumur, lalu salah satu mereka berkata, ‘أنا فطرتها’ yang lain berkata ‘أنا ابتدأها’ (aku yang lebih dulu mendapatkannya).
Kalau Umar dan Ibnu Abbas—yang merupakan penafsir Aquran—saja demikian keadaannya, bagaimana dengan keadaan sahabat yang lain? Demikianlah, Ibnu Qutaibah telah berkata—ia lebih dahulu dari pada Ibnu Khaldun beberapa abad, “Sesungguhnya orang Arab tidak sama dalam mengetahui seluruh hal yang ada dalam Alquran berupa gharib dan mutasyabih, akan tetapi sebagian mereka lebih unggul dari sebagian yang lain.”
8. Pada masa ini, para sahabat dalam menafsirkan Alquran bersandar pada empat sumber, pertama, Alquran. Kedua Nabi Saw. Ketiga, ijtihad dan kekuatan istimbat. Keempat, Ahlul kitab dari golongan Yahudi dan Nasrani.
• Sumber pertama; Alquran. Setiap orang yang berkecimpung dalam tafsir Alquran harus melihat kepada Alquran terlebih dahulu. Kemudian ia mengumpulkan ayat-ayat yang berbicara pada satu objek lalu mengkomparasikannya satu sama lain, agar dapat mengetahui ayat yang ringkas dengan bantuan ayat yang berbicara panjang lebar, memahami ayat yang mujmal dengan bantuan ayat penjelas, membawa yang mutlak kepada yang muqayyad, yang ‘aam ke yang khusus. Dengan demikian, ia telah menafsirkan Alquran dengan Alquran dan memahami maksud Allah dengan apa yang datang dari Allah. Tidak boleh seorang pun berpaling dari fase ini ataupun meloncat ke fase berikutnya bagaimanapun keadaannya, karena pemilik ucapan lebih mengetahui maksud makna yang ia ucapkan dan lebih tau dari yang lainnya.
• Sumber kedua; Nabi Saw. Sumber kedua yang menjadi rujukan para sahabat dalam menafsirkan Alquran adalah Rasulullah Saw. jika seseorang di antara mereka kesulitan dalam memahami ayat Alquran, ia bertanya kepada Rasulullah tentang tafsirnya, lalu beliau menjelaskan hal yang samar tersebut kepadanya, karena tugas Nabi Adalah menjelaskan.
Pada pembahasan kedua dan ketiga, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Al-Ashfahani berkata, “Ahlusunah wal jamaah sepakat bahwa kalamullah itu munazzal (diturunkan). Namun, mereka berbeda pendapat tentang makna inzal (penurunan) ini,
• Ada yang berpendapat maksudnya adalah menampakkan bacaan.
• Yang lain berpendapat bahwa Allah mengilhamkan kalamnya kepada Jibril sedangkan ia berada di langit dan di tempat yang tinggi lalu Dia mengajarkannya bacaanya. Kemudian Jibril menyampaikannya ke bumi dengan turun ke sebuah tempat. Dalam penurunannya ada dua cara. pertama, bahwa Nabi Saw. melepaskan bentuk manusianya ke bentuk malaikat lalu menyambilnya dari Jibril. Kedua, bahwa malaikat berubah ke bentuk manusia hingga Nabi dapat mengambil Alquran darinya. Yang pertama adalah keadaan yang sulit dari kedua keadaan.
• Ath-Thibiy berkata, “Barangkali penurunan Alquran kepada Nabi Saw. dengan cara malaikat mengambilnya dari Allah Swt. secara rohani atau menjaganya dari Lauh Mahfuz. Lalu ia turun kepada rasul dengan membawanya kemudian menyampaikannya kepadanya.
• Al-Qutb ar-Razi berkata, “Inzal secara etimologi adalah الايواء artinya menggerakkan sesuatu dari atas ke bawah. Keduanya tidak bisa terwujud dalam konteks kalam, maka ia digunakan dalam makna majazi.
- Ada yang berpendapat maknanya adalah Alquran adalah makna yang berdiri pada zat Allah. Maka makna penurunanya adalah mencipta kata dan huruf yang menunjukkan kepada makna tersebut dan menetapkannya di lauh mahfuz.
- Yang lain berpendapat, Alquran adalah lafaz, maka makna penurunannya adalah hanya menetapkannya di lauh mahfuz. Makna ini sesuai dengan statusnya yang dinukil dari dua makna bahasa.
- Maksud penurunannya bisa juga dengan penetapannya di langit dunia setelah penetapannya di lauh mahfuz. Ini sesuai dengan makna kedua.
- Maksud dari menurunkan kitab kapada rasul adalah malaikat mengambilnya dari Allah secara rohani atau menjaganya di lauh mahfuz, lalu turun membawanya kemudian menyampaikannya.
2. Pendapat para ulama tentang esensi sesuatu yang diturunkan kepada Nabi Saw. ada tiga,
• Bahwa itu adalah lafaz dan makna, Jibril menjaga Alquran di lauh mahfuz lalu turun membawanya. Sebagian mereka menyebutkan bahwa huruf-huruf Alquran ada di lauh mahfuz, setiap huruf seberat gunung qaf dan di bawah setiap huruf terdapat makna yang tidak diketahui selain oleh Allah Swt.
• Bahwa Jibril turun membawa makna saja. Nabi Saw. mengetahui makna-makna tersebut lalu mengungkapkannya dengan bahasa Arab
• Bahwa Jibril diberikan berupa makna kepadanya lalu ia mengungkapkan lafaz-lafaz ini dengan bahasa Arab. Penduduk langit pun membacanya dengan bahasa Arab. Lalu ia turun membawanya sebagaimana halnya (lafaz itu).
.
#DPKeilmuan_KEMASS
#2017-2018
#DuniaKajianTafsir

SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: