Sunday, October 29, 2017

(Pertemuan Ketiga) Kajian Reguler Tafsir

DP KEILMUAN KEMASS
LAPORAN HASIL KAJIAN REGULER TAFSIR
Pertemuan Ketiga
Selasa, 15 Agustus 2017

.
Alhamdulillah, pertemuan ketiga kajian reguler tafsir kitab At-Tafsir Wa Al-Mufassirun telah terlaksana dengan lancar.
Pada pertemuan ini, terdapat tiga pembahasan kajian,
1. Mendengarkan presentasi pemateri, yang dalam kesempatan ini disampaikan oleh saudari Mamluah al-Hikmah dengan makalahnya yang berjudul; Hakikat Prinsip Seorang Muslim, serta mendiskusikan, memberikan saran, kritik dan masukan terhadap makalah tersebut.
2. Mengkaji pembahasan pertama, tentang makna at-tafsir wa at-takwil wa al-farq bainahuma (Makna tafsir dan takwil serta perbedaan antarkeduanya) pada bagian muqaddimah (pendahuluan) kitab At-Tafsir Wa Al-Mufassirun.
3. Mengkaji salah satu ayat Alquran yang menerangkan tentang kebebasan dalam berakidah (berkeyakinan) dengan melakukan perbandingan antara beberapa kitab tafsir terkemuka, di antaranya, Tafsir Al-Bahru Al-Muhith, Tafsir Al-Maraghi, Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, At-Tafsir Al-Munir dan Ruhu Al-Ma’aniy fi Tafsir Al-Quran Al-Adzim wa As-Sab’i Al-Matsaniy.
.
Pada pembahasan pertama, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Dalam makalahnya yang berjudul; Hakikat Prinsip Seorang Muslim, Saudari penulis mengambil sebuah hadis Nabi Saw. dan menjadikannya sebagai bahan pembahasan utama dalam makalahnya. Hadis tersebut berkenaan dengan urgensi memiliki prinsip perspektif Islam. Hadis tersebut yang artinya, “Janganlah kalian menjadi orang yang tidak berpendirian teguh dengan berkata, ‘Jika orang-orang berbuat baik, kami juga akan berbuat baik. Jika orang-orang berbuat zalim, kami juga akan berbuat zalim, akan tetapi teguhkanlah pendirian kalian!, jika orang-orang berbuat baik, hendaknya kalian berbuat baik pula, sedangkan jika mereka berbuat jahat, jangan kalian berbuat jahat pula.’” (HR. Tirmidzi, No. 2135).
2. Zaman di mana kita hidup sekarang adalah zaman yang tidak tetap, selalu bergerak dan dinamis. Ia layaknya ‘gelombang’ yang membuat setiap orang yang tidak memiliki prinsip kuat akan terombang-ambing di dalamnya. Orang yang tidak memiliki prinsip akan mudah ikut-ikutan tren dan style zaman, sehingga membuatnya tidak tenang dalam hidupnya. Seakan dirinya ‘terseret’ tak tentu arah seiring dengan perkembangan zaman dengan berbagai produk terbaru yang diciptanya. Hingga lama-kelamaan membuat jati diri, nilai dan moral kemanusiaannya ‘tergerus’ karena sikapnya yang salah dalam menghadapi berbagai perkembangan zaman. Oleh sebab itu, Hadis ini benar-benar relevan, faktual dan aktual pada zaman modern seperti sekarang ini dan dalam menyelesaikan berbagai problematika masyarakat kekinian, yang dalam konteks ini adalah urgensi memiliki prinsip yang kuat bagi setiap Muslim dan larangan ikut-ikutan (taklid buta), hingga dengan demikian terciptalah stabilitas kehidupan yang akan membuat ketenangan hidup.
3. Hadis ini mangajarkan setiap muslim agar memiliki prinsip yang kuat. Dalam konteks Hadis adalah berupa perbuatan; berprinsip agar selalu berbuat baik berdasarkan nilai dan tuntunan-tuntunan yang diajarkan dalam Agama (Islam). Standar sebuah kebaikan adalah nilai-nilai dan norma kebaikan yang bersumber dari Alquran dan Sunah.
4. Agar dapat merevitalisasi ajaran, nilai dan norma agama yang terkandung dalam hadis ini, kita dituntut untuk menemukan korelasi antara teks-teks keagamaan (dalam konteks ini adalah hadis ini) dengan berbagai fenomena yang terjadi pada zaman sekarang. Maka dari itu, penting bagi kita untuk membaca dan menelaah buku-buku kontemporer yang menganalisa dan mengamati perkembangan zaman dari berbagai perpektif para pemikir modern, baik dari dunia Islam maupun dunia barat. Sehingga dengan demikian, ajaran dan nilai-nilai agama (Islam) dapat terus faktual, relevan dan aktual sepanjang zaman. Inilah beberapa poin yang menjadi masukan, tambahan dan diskusi untuk makalah tersebut.
.
Pada pembahasan kedua, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Tafsir secara etimologi adalah al-idhah wa at-tabyin (penjelasan dan penerangan). Kata ini berasal dari kata al-fasr yaitu al-ibanah wa al-kasyf (menjelaskan dan menyingkap).
2. Tafsir secara terminologi terdapat banyak pendapat ulama,
• Sebagian ulama berpendapat bahwa tafsir bukan termasuk ilmu yang bisa dibebankan kepada usaha manusia; karena ilmu tafsir bukan berupa kaidah-kaidah, ataupun malakah (kemampuan) yang timbul karena seringnya bersentuhan dengan kaidah-kaidah seperti ilmu-ilmu lain yang memungkinkannya serupa dengan ilmu-ilmu akal. Cukuplah dalam menjelaskan tafsir adalah penjelasan tentang kalam Allah Swt. atau tafsir merupakan penjelas lafaz-lafaz Alquran dan dan pemahamannya.
• Sebagian yang lain berpendapat tafsir termasuk dari permasalahan partikular, kaidah-kaidah terintegritas ataupun malakah (kemampuan) yang diperoleh dari seringnya bersentuhan dengan kaidah-kaidah, sehingga ada definisinya, kemudian di dalamnya disebutkan ilmu-ilmu lain yang dibutuhkan dalam memahami Alquran, seperti ilmu bahasa, sharaf, nahwu, qiraat dan sebagainya. Pendapat ini merupakan kebalikan dari pendapat pertama.
• Jika kita menelusuri perkataan ulama dalam mendefinisikan ilmu tafsir, kita bisa mengembalikan berbagai defenisi tersebut kepada satu esensi; meskipun berbagai definisi tersebut berbeda-beda dari sisi teksnya, akan tetapi memiliki satu esensi makna yang sama. Seperti definisi ilmu tafsir versi Abu Hayan, “Ialah ilmu yang membahas tentang cara penyebutan lafaz Alquran, kandungan-kandungannya, hukum-hukumnya dalam keadaan berdiri sendiri maupun dalam bentuk susunan, makna-maknanya yang dibawa ketika dalam keadaan tarkib (susunan) dan berbagai pelengkap dari semua aspek tersebut.” Az-Zarkasyi mendefinisikan, “Ilmu yang dipakai untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Saw., menjelaskan makna-maknanya dan menyimpulkan hukum dan hikmah-hikmahnya. Sebagian yang lain mendefinisikan, “Ilmu yang membahas tentang hal ihwal Alquran dari sisi pendalilannya dalam menerangkan maksud Allah Swt. sesuai dengan kemampuan manusia.”
Yang lain mendefinisikan, “Ilmu tentang turunnya ayat, perkara-perkaranya, kisah-kisahnya, sebab turunnya ayat, susunan makki dan madaninya, muhkam mutasyabihnya, nasikh mansukhnya, khas ‘aam nya, mutlak muqayyad nya, mujmal mufassarnya, halal haramnya, janji dan ancamannya, perintah dan larangannya serta pelajaran dan permisalan-permisalannya. Dari keempat definisi ini dapat disimpulkan bahwa ilmu tafsir adalah, ilmu yang membahas tentang maksud Allah Swt. sesuai dengan kadar kemampuan manusia, jadi, ia mencakup semua aspek yang berkenaan dalam memahami makna Alquran dan menjelaskan maksudnya.
3. Sedangkan takwil secara etimologi diambil dari kata awwala yang artinya arruju’ (mengembalikan). Takwil adalah ungkapan tentang pandangan/pendapat.
4. Takwil secara terminologi di kalangan ulama salaf dan ulama belakangan dari golongan ahli fiqih, ahli kalam, ahli hadis dan sufi,
• Takwil pada kalangan ulama salaf memiliki dua makna, pertama, menjelaskan dan menerangkan makna suatu ucapan, baik ia sesuai atau tidak bersesuaian dengan zahirnya. Dengan demikian, tafsir dan takwil adalah sinonim. Kedua, takwil sama saja dengan perkataan; jika sebuah perkataan mengandung makna permintaan takwilnya juga bermakna perbuatan yang dipinta. Jika ia khabar, takwilnya juga perbuatan yang sama.
• Takwil pada kalangan ulama belakangan dari golongan ahli fiqih, ahli kalam, ahli hadis dan sufi, ialah memalingkan lafaz dari makna zahirnya kepada makna yang diinginkan karena ada dalil yang menyertainya. Jika ada ucapan mereka, “hadis atau teks ini muawwal atau mahmulun ‘alaa kadza, itu artinya adalah takwil. Takwil membutuhkan dalil. Atas dasar ini, orang yang melakukan takwil dituntut dengan dua hal, pertama, menjelaskan kemunkinan cakupan lafaz terhadap makna yang ingin ia maksudkan. Kedua, menjelaskan dalil yang mengharuskannya lafaz tersebut dipalingkan dari makna zahirnya ke makna yang diinginkan. Jika tidak demikian, maka takwil akan rusak atau teksnya akan dipermainkan.
5. Perbedaan antara tafsir dan takwil, terdapat banyak pendapat di kalangan ulama. Kesemuanya dapat disimpulkan bahwa, tafsir adalah yang merujuk kepada periwayatan, sedangkan takwil adalah yang merujuk kepada dirayah (studi/analisa). Hal itu karena tafsir bermakna menyingkap dan menjelaskan (yang dalam hal ini membutuhkan dalil dari Rasulullah Saw. dan sebagian sahabat yang menyaksikan turunnya wahyu) Adapun takwil difokuskan dalam aspek pemilihan salah satu (makna terkuat) yang terkandung dalam lafaz berdasarkan dalil. Sedangkan tarjih, bersandar pada ijtihad yang dapat ditempuh dengan mengetahui kosa kata lafaz, makna-maknanya dalam bahasa Arab, penggunaannya sebagaimana keadaan konteks kalam, mengetahui uslub-uslub arab dan menarik kesimpulan makna (hukum) dari semua hal tersebut.

.
Pada pembahasan ketiga, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Pada pemahasan ini, kita mencoba mengkaji bagaimana para ulama menafsirkan sebuah ayat yang berkaitan dengan kebebasan dalam berakidah (berkeyakinan) dari beberapa kitab tafsir. Ayat yang akan kita kaji adalah ayat ke 99 surah Yunus. Dalam tafsir Al-Bahru Al-Muhith, dijelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kisah Abu Thalib yang meninggal dalam keadaan memeluk agama Abdul Muthallib. Nabi Saw. menyesalkan hal tersebut, padahal beliau sangat menginginkan ia beriman kepadanya. Karena Nabi Saw. adalah orang yang paling menginginkan manusia beriman, paling berusaha dalam meraih kebaikan untuk mereka dan kemenangan dengan keimanan mereka, paling berusaha untuk menyelamatkan alam semesta dari azab yang pedih, Allah Swt. memberi tahu beliau bahwa Ia telah menciptakan golongan untuk mendapat kebahagiaan dan segolongan lain untuk mendapat kesengsaraan. Dan bahwa jika Dia menginginkan mereka semua beriman, pasti bisa Ia lakukan. Dan bahwa tidak seorangpun mampu memaksakan kehendaknya kepada orang lain (dalam masalah iman).
2. Di Dalam tafsir Al-Maraghi, dijelaskan bahwa jika Allah menghendaki seluruh penghuni bumi beriman, pasti mereka akan beriman, dengan menempatkan mereka pada zona keimanan secara paksa, atau menciptakan mereka dalam keadaan beriman dan taat layaknya para malaikat dan tidak ada persiapan di dalam fitrah mereka untuk selain keimanan. Namun, kau tidak memiliki kemampuan dalam membuat (memaksa) mereka beriman dan bukan juga tugas risalah maupun para rasul. Mereka tidak lain hanya menyampaikan risalah mereka.
3. Di Dalam tafsir At-Tahrir wa At-tanwir, dijelaskan bahwa huruf ‘law’ menunjukkan tidak ada jawaban karena tidak adanya syarat. Dalam konteks ini, Allah tidak menghendaki keimanan kepada seluruh orang, sehingga berlakulah hikmahNya dengan menciptakan manusia memiliki sifat terpengaruh terhadap barbagai faktor dalam mengetahui hakikat-hakikat sehingga mereka tidak serta merta beriman. Seseorang tidak akan beriman hingga rantai silsilah akalnya sempurna yang dapat membuatnya mampu memandang kebenaran, menyadari dakwah kebaikan dan mengakui kebenaran.
4. Di Dalam tafsir Al-Munir, dijelaskan bahwa, “apakah engkau wahai Muhammad Saw. akan memaksa dan menempatkan orang lain beriman?! Itu bukanlah kewajibanmu dan bukan pula tugasmu, akan tetapi perkara itu diserahkan kepada Allah Swt. Karena Iman tidak akan diperoleh dengan paksaan. Iman hanya dapat diperoleh dengan kerelaan dan pilihan (hati), sebagaimana Firman Allah, “tidak ada paksaan dalam agama.” (QS. al-Baqarah: 256).
Dari berbagai tafsir di atas, disimpulkan bahwa Allah Swt tidak menciptakan semua manusia dalam satu keadaan; yaitu beriman seluruhnya, akan tetapi Dia Swt. menjadikan satu golongan manusia mendapatkan kebahagiaan dengan iman dan satu golongan lain yang mendapatkan kesengsaraan akibat kekufuran karena hikmah-Nya yang Maha Bijak.
Tugas para nabi dan rasul adalah menyampaikan risalah Allah, bukan memaksa manusia agar beriman. Demikian juga para ulama, pewaris para nabi, mereka hanya mengajarkan dan menyampaikan, bukan memaksa orang lain agar mengikuti apa yang ia sampaikan. Begitu juga kita; warisan tugas kita adalah menyampaikan kebaikan, dengan tidak ada unsur paksaan sedikitpun.
Sedangkan apakah orang yang diajak dan diajarkan, akan menerima atau menolak kebaikan yang disampaikan, sepenuhnya adalah hak kekuasan Allah Swt semata.

SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: