Sunday, October 29, 2017

(Pertemuan Ketujuh) Kajian Reguler Tafsir

DP KEILMUAN KEMASS
LAPORAN HASIL KAJIAN REGULER TAFSIR
# Pertemuan Ketujuh
# Selasa, 3 Oktober 2017

.
Alhamdulillah, pertemuan ketujuh kajian reguler tafsir kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun telah terlaksana dengan lancar.
.
Pada pertemuan ini, terdapat tiga pembahasan kajian, yaitu,
1. Mengkaji sisi-sisi penjelas as-sunah terhadap Alquran dan pembahasan tentang sumber tafsir yang ketiga pada masa sahabat, yaitu ijtihad dan kekuatan istimbat (mengambil hukum/kesimpulan). Pembahasan ini terdapat pada kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun vol.1, hal. 52-55.
2. Mengkaji tentang pendapat para ulama mengenai hadis yang menunjukkan bahwa Alquran diturunkan dengan sab’atu ahrufin (tujuh huruf). Pembahasan ini terdapat pada kitab Al-Itqon fi Ulumi al-Quran vol.1, hal. 236-240.
3. Mengkaji surah az-Zumar ayat 14 dan 15 tentang perintah ikhlas dalam beribadah kepadaNya semata dan kebebasan dalam berakidah atau dengan kata lain, larangan memaksa orang lain dalam meyakini akidah tertentu serta konsekuensi yang akan diterima di akhirat. Pembahasan ini merujuk kepada beberapa kitab tafsir pada berbagai macam ranahnya, yaitu tafsir bil ma’tsûr, tafsir bi ar-ra’yi, tafsir as-sûfi, tafsir fiqh dan tafsir kontemporer beberapa kitab terkemuka tersebut, seperti tafsir ath-Thabari, tafsir As-Samarqandiy, tafsir al-Fakhrurrazi (mafatihul ghaib) tafsir al-Qurthubi, tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, Tafsir Al-Maraghiy, Al-Bahru Al-Madid fi Tafsiri al-Quran al-Majid.
Pada pembahasan pertama, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Relasi antara As-Sunnah dan Alquran adalah mubayyin bil mubayyan (penjelas dan yang dijelaskan). Adapun beberapa sisi penjelas tersebut adalah, 
• Sisi pertama, Bayanul mujmal (menjelaskan yang global), taudihul musykil (menerangkan yang rumit) takhsishul ‘aam (mengkhususkan yang umum) dan taqyidul mutlaq (mengikat yang mutlak).
- Bayanul mujmal (menjelaskan yang global), seperti Penjelasan Nabi Saw. tentang waktu-waktu shalat fardhu, jumlah rakaat dan tata caranya, ukuran zakat, waktu dan jenisnya begitupun manasik haji. Sebab itulah beliau bersabda, ‘ambillah manasik kalian dariku’, ‘solatlah kalian sebagaimana aku salat.
- Taudihul musykil (menerangkan yang rumit), seperti penjelasan Nabi Saw. tentang kata ‘al-khaiytul abyadh wal khaytul aswad (al-Baqarah 187) yaitu sinar siang hari dan kegelapan malam.
- Takhsishul ‘aam (mengkhususkan yang umum), seperti pengkhususan kata ‘az-dzulmu’ dalam surah al-an’am: 82 dengan makna kesyirikan.
- Taqyidul mutlaq (mengikat yang mutlak), seperti pengikatan kata al yadu (tangan) pada surah al-Maidah: 37 yaitu tangan kanan.
• Sisi kedua, penjelasan lafadz dan hubungannya (dengan kata lain), seperti kata al-maghdhub alaihim yaitu Yahudi dan al-dhaalin yaitu Nasrani. Penjelasan kata mutohharotun (al-Baqarah: 25) yaitu suci dari haid, lendir dan sejenisnya.
• Sisi ketiga, Penjelasan hukum-hukum tambahan terhadap apa yang ada di Alquran. Seperti sedekah fithri, rajam zina muhsan, warisan kakek, hukum bagi seorang saksi dan sumpah dan sebagainya.
• Sisi keempat, penjelasan nasakh (penghapusan), seperti penjelasan Nabi Saw. ayat ini dihapus dengan ini atau hukum ini dihapus dengan ini. Maka sabda beliau, ‘tidak ada wasiat bagi pewaris’ merupakan penjelasan dari beliau bahwa ayat wasiat bagi kedua orangtua dan kerabat telah dihapus hukumnya, meskipun bacaannya tetap ada di dalam Alquran.
• Sisi kelima, sebagai penguat (Alquran), hal demikian ketika adanya nash sunah yang bersesuaian dengan Alquran hingga dimaksudkan untuk menguatkan sebuah hukum. Seperti hadis Nabi Saw. ‘tidak halal harta seseorang melainkan dengan kerelaan dirinya’ hadis ini bersesuaian dengan firman Allah Swt. ‘Janganlah kalian makan harta kalian dengan cara batil’ (an-Nisa: 29).
2. Sumber tafsir yang ketiga pada masa sahabat, yaitu ijtihad dan kekuatan istimbat (mengambil hukum/kesimpulan). Ketika para sahabat tidak menjumpai tafsir Alquran dan mereka kesulitan memperolehnya dari Rasulullah Saw. mereka merujuk kepada ijtihad mereka dan menjalankan akal mereka. Hal ini bagi ayat yang membutuhkan pemikiran dan ijtihad. Sedangkan ayat yang bisa dipahami hanya dengan mengetahui/memahami bahasa Arab, maka mereka tidak perlu membutuhkan pemikiran yang mendalam dalam memahaminya, mengingat mereka adalah orang arab murni, mengetahui perkataan orang Arab dan kisi-kisi mereka, mengetahui lafaz dan makna-makna Arab dengan mengetahui apa yang terdapat di dalam syair Jahili yang termasuk khazanah Arab sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas.
3. Perangkat-perangkat ijtihad para sahabat dalam Tafsir Alquran, yaitu
• Pengetahuan tentang kondisi-kondisi bahasa dan rahasianya. Ini membantu dalam memahami ayat yang pemahamannya bergantung pada bahasa selain Arab.
• Pengetahuan tentang budaya bangsa Arab. Sedangkan pengetahuan tentang adat kebiasaan orang Arab membantu dalam memahami banyak ayat yang berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan mereka. seperti pada surah at-Taubah 37 dan al-Baqarah: 189, tidak bisa dipahami maksudnya, melainkan dengan mengetahui kebiasaan orang Arab pada masa Jahiliah ketika turunnya Alquran.
• Pengetahuan tentang kondisi Yahudi dan Nashrani di Jazirah Arab ketika turunnya Alquran, ini membantu dalam memahami ayat-ayat yang di dalamnya terdapat isyarat kepada perbuatan mereka dan bantahan terhadap mereka. Mengetahui asbabun nuzul, kondisi dan peristiwa yang melingkupi Alquran membantu dalam memahami banyak ayat Alquran. Oleh sebab itu, al-Wahidi berkata, ‘tidak mungkin bisa mengetahui tafsir Ayat tanpa mengetahui kisah dan penjelasan turunnya (ayat)’.
• Kekuatan pemahaman dan wawasan yang luas, ini merupakan kalabihan yang diberikan kepada hambaNya yang Ia kehendaki. Ibnu Abbas adalah orang yang mendapat keberuntungan yang besar dari hal itu, demikian karena keberkahan doa Nabi Saw. kepadanya, ‘Ya Allah, pahamkanlah ia dalam urusan agama dan ajarkanlah ia takwil’.
Pada pembahasan kedua, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Terdapat hadis, ‘Alquran turun dengan tujuh huruf’ dari sekumpulan para perawi dari golongan sahabat. Mereka berjumlah 21 orang sahabat dan Abu Ubaid menetapkan kemutawatiran hadis ini.
2. Perbedaan pendapat para ulama mengenai turunnya Alquran dengan sab’atu ahrufin (tujuh huruf).
• Hal ini termasuk yang susah dipahami maknanya, karena secara etimologis bisa menunjukan huruf hijaiyah, kata, makna dan arah. Ini pendapat Ibnu Sa’dan an-Nahwi.
• Maksud dari tujuh, bukan menunjukan bilangan yang sebenarnya, akan tetapi bermaksud untuk memudahkan dan melapangkan. Lafaz sab’ah bisa menunjukan bilangan yang banyak dalam bentuk satuan, seperti 70 bisa menunjukan bilangan dalam bentuk puluhan dan 700 bisa menunjukan bilangan dalam bentuk ratusan, dan tidak dimaksudkan bilangan tertentu. Ini pendapat ‘Iyad dan pengikutnya.
• Maksudnya adalah tujuh qiraat (bacaan). Namun ini dikomentari bahwa di dalam Alquran tidak terdapat kata yang dibaca dengan tujuh huruf melainkan sedikit.
• Maksudnya setiap kalian dibaca dengan satu cara, dua cara, tiga cara atau lebih hingga tujuh. Yang menjadi masalah di sini adalah terdapat bacaan dalam kata-kata yang dibaca lebih banyak dari itu. Ini bisa dijadikan pendapat keempat.
• Maksudnya adalah sisi yang terjadi perubahan padanya. Ibnu Qutaibah menyebutkan beberapa sisi perubahan ini.
• Abu Fadhl ar-Razi berkata dalam kitab al-lawaih, sebuah kalam itu tidak keluar dari tujuh sisi dalam perbedaan, pertama, perbedaan isim, tunggal, dua dan jamak, kedua perbedaan tasrif, ketiga i’rob, keempat pengurangan dan tambahan, kelima didipankan dan diakhirkan, keenam ibdal (perubahan), ketujuh perbedaan logat.


• Maksudnya cara membacanya dalam bacaan seperti idgham izhar tafkhim tarqiq dsb.
Demikian sebagian pendapat para ulama dalam menginterpretasikan sab’atu ahrufin (tujuh huruf)
Pada pembahasan ketiga, terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,
1. Surah az-Zumar ayat 14 dan 15 yang artinya, “Katakanlah hanya Allah yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agamaku. Maka sembahlah selain Dia sesukamu, (wahai orang-orang musrik) katakanlah sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugi diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”
• Dalam tafsir at-Thabari disebutkan, bahwa Nabi diperintahkan untuk taat dan beribadah hanya kepada Allah Swt. lalu Nabi Saw. berkata ke kaumnya, sembahlah wahai kaum berhala dan patung yang kalian mau, akan tetapi kelak kalian akan mengetahui bencana akibat ibadah kalian itu ketika kalian berjumpa dengan tuhan kalian.
• Dalam tafsir as-Samarqandi, disebutkan bahwa kalmat ‘fa’buduu maa syi’tum’ adalah lafaz pemberitahuan dan perintah, tapi dimaksudkan ancaman dan takhwif (teror).
• Dalam tafsir al-fakhrur razi, disebutkan bahwa kalimat itu bukan perintah, akan tetapi dimaksudkan untuk az-zajr (teguran keras).
• Dalam tafsir al-Qurtubi, disebutkan bahwa kalimat itu adalah perintah yang mengandung ancaman, kecaman dan celaan.
• Dalam tafsir at tahrir wa tanwir disebutkan bahwa perintah dalam kalimat itu digunakan dalam makna pembiaran, akan tetapi diungkap dengan gaya persamaan, maksud persamaan pada hal itu bagi pembicara, maka ia menjadi sindiran dalam menunjukan ketidak pedulian kepada lawan bicara.
• Dalam tafsir al-maraghi, kalimat itu mengandung ancaman dan kecaman yang sanga keras.
• Dalam tafsir al bahrul madid, disebutkan bahwa kalimat itu kerasnya kemurkaan terhadap mereka dan tidak tersembunyi, sampai-sampai ketika mereka dilarang melakukan perbuatan itu namun tetap melakukannya, mereka pun disuruh melakukannya, agar azab semakin melingkupi mereka.
2. Ayat ini menunjukan bahwa setiap bebas memilih apa yang ia inginkan berupa keyakinan. Dan tidak ada paksaan dalam agama. Namun setiap pilihan terdapat konsekuensi dan pertanggungjawaban di akhirat kelak. Allahu a’lam.

#DPKeilmuan_KEMASS
#2017-2018
#DuniaKajianTafsir

SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: