Wednesday, October 11, 2017

(Pertemuan Perdana) Kajian Reguler Tafsir



LAPORAN HASIL KAJIAN REGULER TAFSIR
Oleh: DP Keilmuan KEMASS
Pertemuan perdana (Selasa, 1 Agustus 2017)

Alhamdulillah, pertemuan perdana kajian reguler tafsir kitab At-Tafsir Wa Al-Mufassirun telah terlaksana dengan lancar.
Pada pertemuan ini, terdapat tiga pembahasan mendasar yang pada intinya adalah mengetahui peta perjalanan kajian tafsir ini untuk kedepan. Ketiga pembahasan besar itu meliputi,
1. Mencari tahu peta pembahasan kitab At-Tafsir Wa Al-Mufassirun, dengan mengkaji muqoddimah (pendahuluan) dan fihris (daftar isi) kitab tersebut secara umum.
2. Mencari tahu peta pembahasan ulumul quran yang merujuk ke kitab Al-Itqon Fii Ulum Al-quran dengan mengkaji bagan dari kitab tersebut secara umum.
3. Mencari tahu secara umum langkah-langkah menulis tafsir tematik dengan seluruh corak tafsirnya.

Pada pembahasan ini terdapat beberapa poin hasil kajian, sebagai berikut,

1. Hal yang perlu diketahui ketika ingin mencari tahu gambaran umum dari suatu kitab adalah dengan melihat bagian muqoddimah (pendahuluan) dan bagian fihris (daftar isi).

2. Pada bagian muqoddimah, terdapat pembahasan, 
- Makna dan perbedaan antara tafsir dan takwil,
- Perbedaan antara terjemah harfiyah, maknawiyah dan tafsiriyah.

3. Sedangkan dengan mengkaji daftar isi pada jilid pertama kitab ini, dapat diketahui bahwa kitab At-Tafsir Wa Al-Mufassirun merupakan peta sejarah perkembangan tafsir mulai dari masa Nabi Muhammad Saw. dan sahabat hingga masa tadwin (kodifikasi) tafsir dan resensi umum tentang kitab-kitab tafsir terkemuka.

4. Fase pertama adalah fase perkembangan tafsir pada masa Nabi Saw. dan para sahabat.
- Pada fase ini terdapat perbedaan tingkat pemahaman para sahabat dalam memahami Alquran. Sebagaimana ketika turunnya surah al-‘Ashr, para sahabat bergembira karena risalah Islam telah turun dengan sempurna, sedangkan Ibnu Abbas Ra. malah menangis, karena itu petanda ajal Nabi Saw. telah dekat.
- Sumber tafsir pada fase ini meliputi, Alquran, Hadis nabawi, ijtihad dan Ahlul kitab (israiliyat).
- Nilai dan keistimewaan tafsir bil ma’tsur dari kalangan sahabat.

5. Fase kedua adalah fase perkembangan tafsir pada masa tabi’in. Pada fase ini, terbentuklah aliran-aliran tafsir,
- Di Mekah, terdapat madrasah tafsir yang mengikuti pemahaman Ibnu Abbas Ra. Tokoh-tokoh pentingnya antara lain, Said bin Jabir, Mujahid bin Jabir, Ikrimah dan yang lainnya.
- Di Iraq, terdapat madrasah tafsir yang mengikuti pemahaman Ibnu Mas’ud Ra. Tokoh-tokoh pentingnya antara lain, Abqomah bin Qais, Al-Aswad bin Yazid, Al-Hasan Ab-bashri dan yang lainnya.
- Di Madinah, terdapat madrasah tafsir yang mengikuti pemahaman Ubay bin Ka’ab Ra. 
- Nilai dan keistimewaan tafsir bil ma’tsur dari kalangan tabi’in


6. Fase ketiga adalah fase perkembangan tafsir pada masa kodifikasi tafsir. Pada fase ini, mulai tampak corak-corak tafsir, seperti
- Tafsir bil ma’stur, tafsir bi ar-ra’yi 
- Awal mula masuknya Israiliat ke dalam tafsir serta perkembangannya.
- Awal mula dihapusnya penyebutan sanad dari tafsir.

7. Diantara kitab tafsir bil ma’tsur yang terkenal, seperti
- Kitab Jami al-bayan fi tafsiri al-quran karya Imam Ath-Thabari. Pada kitab ini, masih terdapat penyebutan sanad dalam tafsirnya. 
- Kitab Tafsir al-Quran al-Adzim karya Ibnu Katsir. Pada kitab ini tidak lagi disebutkan sanad dalam penyebutan tafsir, akan tetapi ketika menyebutkan hadis, masih menyertakan sanad.

8. Terdapat perbedaan sikap yang diambil para ulama ketika menghadapi tafsir bir-ra’yi. Ada yang tidak menerima dan berdalil dengan hadis Nabi Saw., Man qola fil quran bir-ro’yi faqod kafara (siapa yang menafsirkan Alquan dengan akal maka ia telah kafir). Ada juga yang menerima dengan berdalil dengan perkataan Mu’az bin Jabal Ra. ketika ia ditanya dengan apa ia menyelesaikan suatu masalah, Mu’az menjawab dengan Alquran, jika tidak ada maka dengan Hadis, jika tidak ada maka ia berijtihad dengan akalnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa, atas dasar inilah kemudian para ulama membagi tafsir bir-ra’yi kepada dua macam, pertama al-madzmum (tercela) dan kedua al-mamduh/al-jaiz (terpuji/boleh). Diantara kitab-kitab tafsir bil ra’yi (al-mamduh/jaiz) yang terkenal.

9. Diantara kitab tafsir bil ra’yi (al-mamduh/jaiz) yang terkenal,
- Mafatih al-ghaib karya imam Ar-Rozi. Salah satu keistimewaan Tafsir ini dapat dilihat dari perhatian iman Ar-Rozi dalam menjelaskan munasabah (korelasi) antar ayat dan surah. 
- Anwaru at-Tanzil wa Asraru at-Ta’wil karya iman al-Baidhowi.
- Al-Bahru al-Muhith karya Abu hayan.

10. Diantara Kitab tafsir yang memiliki corak-corak lainnya seperti,
- Bahru Al-Madid karya Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad al-Ajibah. Kitab ini menafsirkan ayat secara zohir kemudian memberikan isyarat-isyarat sufi.
- ‘Araisu Al-Bayan fi haqaiqu Al-Quran karya Ruzbuhan bin Abi Nasr. Ini merupakan tafsir yang bercorak sufi.
- At-Ta’wilat An-Najmiyyah fi Tafsiri Al-Isyariy As-Sufi karya Ahmad bin Umar bin Muhammad Najmuddin Al-Kubra. Ini merupakan tafsir yang bercorak sufi.
- Ruhu Al-Bayan karya Ismail Haqii al-Busiri. Ini merupakan tafsir yang bercorak sufi yang di dalamnya terdapat bahasa Arab yang bercampur dengan bahasa Persia.
- Al-Kassyaf karya Az-Zamakhsyariy. Ini merupakan kitab tafsir bi ar-ro’yi yang menafsirkan ayat melalui pendekatan lughah (bahasa). Dalam kitab At-Tafsir wa Al-Mufassirun, imam Az-Dzahabi menggolongkan tafsir ini sebagai tafsir bi ar-ra’yi yang mazdmum (tercela), karena dalam penafsirannya, Az-Zamakhsyari dalam menafsirkan ayat juga menyertakan pendapat-pendapat Mu’tazilah yang tidak sejalan dengan aqidah Ahlusunnah. Meskipun demikian, di sisi lain tafsir ini memiliki qimah (nilai) yang besar seperti dari sisi lughahnya.
- Tafsir Al-Manar karya Rasyid Ridha. Ini merupakan salah satu kitab tafsir kontemporer. Dalam kitabnya, beliau menafsirkan ayat melalui pendekatan etimologi (secara bahasa)—sebagaimana metodologi kontemporer yang dikenal, kemudian mulai menafsirkan ayat.

11. Perbedaan antara tafsir maudu’ dan tafsir maudu’iy. Tafsir maudu’ adalah tafsir palsu yang dibuat-buat. Walau demikian, tafsir ini juga memiliki qimah (nilai) di sebagian ulama, karena bagaimanapun, tafsir ini juga dibangun dengan pondasi pemikiran yang terstruktur. Sedangkan tafsir maudu’iy adalah tafsir tematik yang mengumpulkan ayat-ayat berdasarkan tema tertentu. 

12. Pada bagan kitab Al-Itqon fi Ulum Al-Quran, terdapat lima pembahasan besar yang perlu dipelajari, yaitu ulum tanzilihi (Ilmu tentang turunnya Alquran), ulum tartilihi (Ilmu tentang bacaan Alquran), ulum tadwinihi (Ilmu tentang kodifikasi/penulisan Alquran), ulum ta’wilihi (Ilmu tentang penafsiran Alquran) dan ulum tadlilihi (Ilmu tentang pendalilan Alquran).



SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: