Saturday, November 18, 2017

Ulama-Ulama Palembang

Masjid Agung Palembang (Image taken from Google)
Oleh: Ahmad Al-Abror*

Ulama merupakan pewaris para nabi. Para nabi tidak meninggalkan sesuatu apapun melainkan risalah yang diembannya yang berupa ilmu. Hal inilah yang termasuk dari kemuliaan dan keistimewaan para ulama. Kemuliaan ilmu telah banyak disebutkan di dalam al-Quran maupun Hadis. Para ulama lah yang merupakan satu-satunya jalan yang menghantarkan kita kepada risalah yang sekarang kita rasakan berupa nikmat ilmu, Iman dan Islam. Tugas ulama yang demikian urgen disokong dengan kemuliaan ilmu, menambah kemuliaan mereka sebagai pewaris para nabi sekaligus penyampai ilmu.

Para ulama tidak hanya muncul di sekitar daerah di mana pembawa risalah akhir zaman dilahirkan. Di bumi nusantara terdapat banyak ulama yang terkenal, tepatnya ulama yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, di antaranya :

Syaikh Abdushshamad Al-Palimbani lahir pada tahun 1116 H/1704 M di Palembang. Beliau adalah putra Syaikh Abdul Jalil bin Syaikh Abdul Wahhab bin Syaikh Ahmad al-Mahdani (ada yang mengatakan al-Mahdali), seorang ulama keturunan Arab (Yaman) yang diangkat menjadi Mufti negeri Kedah pada awal abad ke-18. Sementara ibunya, Radin Ranti adalah seorang wanita Palembang. Syaikh Abdul Jalil adalah ulama besar sufi yang menjadi guru agama di Palembang.

Al-Palimbani mengawali pendidikannya di Kedah dan Pattani (Thailand Selatan). Tidak ada penjelasan kapan dia berangkat ke Makkah melanjutkan pendidikannya. Kemungkinan besar setelah beliau menginjak dewasa dan mendapat pendidikan agama yang cukup di negeri Melayu. Di Makkah dan Madinah, Al-Palimbani banyak mempelajari berbagai disiplin ilmu kepada ulama-ulama besar masa itu serta para ulama yang berkunjung ke sana.

Al-Palimbani mempunyai kecenderungan pada tasawuf. Karena itu, di samping belajar tasawuf di Masjidil-Haram, ia juga mencari guru lain dan membaca kitab-kitab tasawuf yang tidak diajarkan di sana. Dari Syaikh Abdurrahman bin Abdul ‘Aziz al-Magribi dia belajar kitab at-Tuhfatul Mursalah (Anugerah yang Diberikan) karangan Muhammad Fadlullah al-Burhanpuri (w. 1030 H/1620 M). Dari Syaikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani (w. 1190 H/1776 M) ia belajar kitab tauhid (suluk) Syaikh Mustafa al-Bakri (w. 1162 H/1749 M). Dan bersama Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdul Wahab Bugis dan Abdurrahman Masri Al-Batawi dari Jakarta, mereka membentuk empat serangkai yang sama-sama menuntut ilmu di Makkah dan belajar tarekat di Madinah kepada Syaikh Muhammad as-Samman (w. 1162 H/1749 M), juga bersama-sama dengan Dawud Al-Fatani dari Pattani, Thailand Selatan.

Al-Palimbani memantapkan karirnya di Haramain (Mekkah dan Madinah) dan mencurahkan waktunya untuk menulis dan mengajar. Meski demikian dia tetap menaruh perhatian yang besar terhadap Islam dan kaum Muslimin di negeri asalnya. Di Haramain ia terlibat dalam ‘komunitas Jawi’ yang membuatnya tetap tanggap terhadap perkembangan sosio-religius dan politik di Nusantara. Peran pentingnya tidak hanya karena keterlibatannya dalam jaringan ulama, melainkan lebih penting lagi karena tulisan-tulisannya yang tidak hanya menyebarkan ajaran-ajaran sufisme, tetapi juga menghimbau kaum Muslimin melancarkan jihad melawan kolonialis Eropa, dibaca secara luas di wilayah Melayu-lndonesia. Peranan dan perhatian tersebut memantapkannya sebagai ulama asal Palembang yang paling menonjol dan paling berpengaruh melalui karya-karyanya.

Al-Palimbani berperan aktif dalam memecahkan dua persoalan pokok yang saat itu dihadapi bangsa dan negara. Baik di kesultanan Palembang maupun di kepulauan Nusantara pada umumnya—menyangkut dakwah Islamiah dan kolonialisme Barat. Mengenai dakwah Islam, ia juga ikut berpartisipasi dalam kepenulisan. Salah satu karyanya adalah Tuhfah ar-Râghibîn fî Bayân Haqîqah Îmân al-Mukminîn wa Mâ Yufsiduhu fî Riddah al-Murtaddîn (1188). Dalam buku tersebut, beliau memperingatkan pembaca agar tidak tersesat oleh berbagai paham yang menyimpang dari Islam seperti ajaran tasawuf yang mengabaikan syariat, tradisi menyanggar (memberi sesajen) dan paham Wujudiyah Muthid yang sedang marak pada waktu itu. Drewes menyimpulkan bahwa kitab ini ditulis atas permintaan sultan Palembang, Najmuddin atau putranya Baharuddin karena di awal kitab itu ia memang menyebutkan bahwa ia diminta seorang pembesar pada waktu itu untuk menulis kitab tersebut.

Mengenai kolonialisme Barat, Al-Palimbani menulis kitab Nashîhah al-Muslimîn wa Tadzkirah al-Mu’minîn fi Fadâil Jihâd fî Sabîlillâh, dalam bahasa Arab, untuk menggugah semangat jihad umat Islam sedunia. Tulisannya ini sangat berpengaruh pada perjuangan kaum Muslimin dalam melawan penjajahan Belanda, baik di Palembang maupun di daerah-daerah lainnya. Hikayat Perang Sabil-nya Tengku Cik Di Tiro dikabarkan juga mengutip kitab tersebut.

Mengenai tahun wafatnya juga tidak diketahui dengan pasti. At-Târîkh as-Salâsilah Negeri Kendah menyebutkan tahun 1244 H/1828 M. Namun kebanyakan peneliti lebih cenderung menduga ia wafat tidak berapa lama setelah meyelesaikan Siyâr as-Sâlikîn (1203 H/1788 M). Argumen mereka, Siyâr as-Sâlikîn adalah karya terakhirnya dan jika dia masih hidup sampai 1788 M kemungkinan dia masih tetap aktif menulis. Al-Baithar—seperti dikutip Azyumardi Azra—menyebutkan ia wafat setelah tahun 1200/1785. Namun Azyumardi Azra sendiri juga lebih cenderung mengatakan ia wafat setelah menyelesaikan Siyâr as-Sâlikîn, tahun 1788 M. Adapun makam beliau terletak di Tailand Selatan tepatnya di daerah Pattani.

Syaikh Muhsin bin ‘Ali bin ‘Abdurrahman Al-Musawa Al-Palimbani
Beliau lahir di Palembang, pada tahun 1323 H. di masa kanak-kanaknya, Muhsin dididik langsung oleh sang ayah, ‘Ali bin ‘Abdurrahman dengan pendidikan yang baik, kemudian dimasukkan ke Madrasah Nurul Islam Jambi. Di sana ia mempelajari mabâdi’ (dasar-dasar) ilmu agama, lalu dipindah ke Madrasah Sa’ad ad-Darain Jambi. Ketika ayahnya wafat pada tahun 1919 M, Muhsin kembali ke Palembang dan masuk ke Madrasah Hukumiyyah (Negeri). Di madrasah ini ia menimba ilmu agama dari H. Idrus.

Pada musim haji tahun 1340 H., Muhsin melawat ke Makkah dan di awal tahun 1341 H. ia masuk ke Madrasah Ash-Shulutiyyah—yang dirintis oleh Syaikh Rahmatullah al-Hindi. Di sini Muhsin menimba ilmu dari para ulamanya seperti: Syaikh Hasan bin Muhammad Al-Masyath, Syaikh Dawud Dihan, Syaikh ‘Abdullah bin al-Hasan al-Kuhaji, al-Muhaddits Syaikh Habibullah asy-Syinqithi—penulis kitab Zâd al-Muslim fîma Ittafaqa ‘alaih al-Bukhâri wa Muslîm—dan Syaikh Mahmud bin ‘Abdurrahman Zuhdi al-Bangkoki al-Bilibini. Ketika menuntut ilmu, Muhsin adalah santri teladan, semangat, dan takwa. Ia piawai dalam berbagai disiplin ilmu seperti Tafsir, Ushul Fikih, ilmu Falak dan Faraidh (ilmu waris).

Syaikh Muhsin adalah salah seorang ulama dan penuntut ilmu yang perhatian terhadap ilmu Hadis dengan berbagai cabangnya terutama ilmu riwayat dan sanad. Dari sana beliau mengumpulkan sanad-sanad yang disertai ijazah dari para ulama di berbagai belahan bumi.

Pada tahun 1353 H, Syaikh Muhsin merintis Madrasah Darul ‘Ulum ad-Diniyyah di Makkah Al Musyarrafah. Maka berduyun-duyunlah santri-santri dari Indonesia masuk ke madrasah itu. Belum lama berdiri, madrasah itu telah meluluskan ustadz-ustadz dan pegawai-pegawai yang di kemudian hari sudah sibuk di madrasah-madrasah negeri dan swasta. Salah satu santri yang terkenal alumni madrasah itu adalah Musnidul ‘Ashr al-‘Allamah Abul Faidh al-Fadani yang ahli di bidang Hadis, Fiqih, Ushul dan Kaidah-kaidah Fiqih, ilmu Falak dan lain-lain. Syaikh al-Fadani adalah seorang santri yang sangat terpengaruh dengan gurunya, Syaikh Muhsin. Oleh karena itu beliau menulis sebuah kitab khusus yang membahas riwayat hidup serta sanad-sanad Syaikh Muhsin. Buku tersebut berjudul “Faidh al-Muhaimîn fî Tarjamah wa Asânîd As-Sayyid Muhsin”. Pada bulan Jumadil Akhir tahun 1354 H Syaikh Muhsin dipanggil ke hadapan Allah Swt.

Masagus KH. Abdul Hamid bin Masagus H. Mahmud “Kyai Marogan”
Kyai Marogan terlahir dengan nama Masagus KH. Abdul Hamid bin Masagus H. Mahmud. Namun bagi masyarakat Palembang, julukan “Kyai Marogan” lebih terkenal dibanding nama lengkapnya. Julukan Kyai Marogan dikarenakan lokasi masjid dan makamnya terletak di Muara sungai Ogan, anak sungai Musi, Kertapati Palembang. Mengenai waktu kelahirannya, tidak ditemukan catatan yang pasti. Ada yang mengatakan, beliau lahir sekitar tahun 1811 dan adapula tahun 1802. Kyai Marogan dilahirkan oleh seorang ibu bernama Perawati yang keturunan Cina dan ayah yang bernama Masagus H. Mahmud alias Kanang, keturunan ningrat.

Kyai Marogan hanya memiliki seorang adik yang bernama Masagus KH. Abdul Aziz yang juga menjadi seorang ulama dengan sebutan Kyai Mudo. Sebutan ini dikarenakan ia lebih muda dari Kyai Marogan. Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan dari keluarga bangsawan, Kyai Marogan memperoleh pendidikan agama dengan istimewa. Hal ini dikarenakan di dalam lingkungan kesultanan Palembang, agama Islam mempunyai tempat yang terhormat, dimana hubungan antara negara dan agama sangat erat, sebagaimana dibuktikan oleh birokrasi agama di istana Palembang.

Birokrasi ini dipimpin oleh seorang pegawai dengan gelar Pangeran Penghulu Naga Agama. Di samping itu, Kyai Marogan memperoleh pendidikan langsung dari orang tuanya yang ternyata merupakan seorang ulama besar yang lama belajar di Makkah di bawah bimbingan ulama besar seperti Syaikh Abdushshamad al-Falimbani. Setelah wafat, ayah Kyai Marogan dimakamkan di negeri Aden, Yaman Selatan. Melihat kecerdasan Kyai Marogan dalam menyerap ilmu agama kemudian orang tuanya mengirimkannya ke Makkah untuk belajar mendalami ilmu-ilmu agama. Kyai Marogan tercatat pernah belajar ilmu-ilmu agama seperti Ilmu Fiqih, Hadis dan Tasawuf. Ketika remaja, Abdul Hamid belajar berbagai disiplin ilmu agama Islam kepada ulama-ulama besar Palembang waktu itu seperti: Syaikh Pangeran Surya Kusuma Muhammad Arsyad (w.1884), Syaikh Kemas Muhammad bin Ahmad (w.1837), Syaikh Datuk Muhammad Akib (w.1849) dan lain-lain. Ia berpegang kepada akidah Ahlussunnah wa al-jamaah, bermazhabkan Imam Syafi’i.

Sedangkan di bidang tasawuf, ia mengamalkan dan mendapat ijazah Tarekat Sammaniyah dari ayahnya sendiri dan Tarekat Naqsyabandiyah dari para gurunya. Selanjutnya ia meneruskan studinya ke tanah suci, terutama Makkah dan Madinah kepada gurunya Sayid Ahmad Zaini Dahlan, Sayid Ahmad Dimyati dan Syekh Ahmad Khatib Sambas. Setelah merampungkan studinya di tanah suci, ia berkeinginan untuk hijrah ke Masjidil Aqsha, namun niat tersebut diurungkannya. Karena beliau memperoleh petunjuk bahwa negerinya masih sangat memerlukannya.

Kyai Marogan memiliki dua orang istri yang bernama Masayu Maznah dan Raden Ayu Salmah. Dari pernikahannya, ia dikaruniai tiga putra-putri yaitu Masagus H. Abu Mansyur, Masagus H. Usman dan Masayu Zuhro.
Banyak ajaran Kyai Marogan yang masih melekat di sebagian penduduk Palembang, di antaranya adalah sebuah dzikir:
لاَاِله الا الله  الملك الحق المبين محمد رسول الله صادق الوعد الامين
Artinya; “Tiada Tuhan Selain Allah, Raja Yang Benar dan Nyata, Muhammad adalah Rasulullah Yang Jujur dan Amanah.”
Konon, amalan zikir ini dibaca oleh Kyai Marogan dan murid-muridnya dalam perjalanan di atas perahu. Sambil mengayuh perahu, beliau menyuruh murid-muridnya mengucapkan zikir tersebut berulang-ulang sepanjang perjalanan dengan suara lantang. Zikir ini dapat menjadi tanda dan ciri khas penduduk apabila ingin mengetahui Kiai Marogan melewati daerahnya.

Amalan zikir ini ternyata sampai sekarang masih dibaca oleh Wong Palembang, khususnya ibu-ibu ketika menggendong anak bayi untuk menimang atau menidurkan anaknya dengan irama yang khas dan berulang-ulang. Dan zikir ini juga dipakai oleh penduduk untuk mengantarkan mayit sambil mengusung keranda sampai ke pemakaman. Beliau wafat pada 17 Rajab 1319 H., yang bertepatan dengan 31 Oktober 1901 M.

Itulah beberapa ulama terkenal asal Palembang yang memiliki pengaruh besar, baik di dalam maupun di luar nusantara terutama di Palembang. Mereka menanamkan dan memperjuangkan semangat mental serta membebaskan manusia agar berpikir jernih, sehingga dapat melepaskan mereka dari berbagai problematika yang mereka hadapi pada saat itu. Berbagai problematika tersebut baik internal yang berupa percaya kepada takhayul dan kelemahan iman, maupun eksternal yang berupa berbagai tekanan dari para penjajah pada saat itu.

Jika berkaca dari para ulama pada masa itu, para penerus mereka pada masa sekarang khususnya di nusantara, telah meneruskan risalah yang mereka emban di tengah umat walaupun juga terdapat banyak kendala dalam mendakwahkannya, baik kendala internal maupun eksternal. Kendala internal timbul dari ‘tubuh’ umat Islam itu sendiri. Sedangkan dari eksternal, seperti adanya isu-isu bahwa Islam terkesan kejam dalam dakwahnya, karena kemunculan beberapa kelompok radikal seperti ISIS (Islamic State of Iraq and Suria).

Melihat realita yang ada, setiap muslim hendaknya mengambil pelajaran dari sejarah para ulama terdahulu. Bagaimana mereka mendakwahkan Islam dengan ikhlas dan sabar dalam menghadapi berbagai kendala. Di samping itu, juga harus cerdas dalam menyikapi setiap kabar yang muncul dengan ber-tabayun (klarifikasi), tidak mudah diprovokasi dan tidak gegabah dalam mengambil tindakan. Sehingga dakwah Islam akan berdiri kokoh seiring dengan kokohnya para generasi muslim. (/pen.)

*Penulis merupakan mahasiswa tingkat 2 fakultas Ushuluddin.
**Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Sriwijaya pada edisi II tahun 2016.

SHARE THIS

Author:

KEMASS merupakan sebuah organisasi Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan yang berada di Mesir. Didirikan pada tahun 1959 dengan nama IPSS dan berubah menjadi KEMASS pada tanggal 25 januari 1976.

0 comments: